PONTIANAK MEREKAM.COM, PONTIANAK – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio kembali mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Kalimantan Barat yang berlaku pada periode 5 hingga 7 Juni 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat terjadi di sejumlah daerah.

Berdasarkan pembaruan data BMKG, sebagian besar wilayah Kalimantan Barat masih berada dalam pola cuaca yang dinamis. Kondisi tersebut berpotensi memicu hujan dengan intensitas bervariasi, terutama pada siang hingga malam hari. Selain hujan, sejumlah daerah juga berpotensi mengalami angin kencang yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.

Untuk Jumat, 5 Juni 2026, BMKG tidak mengeluarkan status waspada hujan sedang hingga lebat. Namun masyarakat tetap diimbau memperhatikan perkembangan cuaca karena hujan lokal masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah Kalimantan Barat.

Memasuki Sabtu, 6 Juni 2026, Kabupaten Sintang menjadi daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan genangan pada wilayah rawan serta mengganggu aktivitas transportasi dan kegiatan masyarakat di luar ruangan.

Selain hujan, BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang yang berpeluang terjadi di sejumlah wilayah. Pada 5 Juni 2026, Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang masuk dalam daerah yang berpotensi mengalami angin kencang. Sementara pada 6 Juni 2026, potensi serupa masih berpeluang terjadi di Kabupaten Ketapang.

BMKG menjelaskan bahwa cuaca di Kalimantan Barat selama sepekan ke depan masih didominasi hujan ringan hingga sedang. Pada beberapa wilayah, peningkatan intensitas hujan dapat terjadi secara lokal akibat pertumbuhan awan konvektif yang cukup signifikan. Karena itu masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang berlangsung cepat.

Di sisi lain, BMKG Kalbar juga mengingatkan adanya potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian wilayah Kalimantan Barat. Kondisi tersebut dipengaruhi faktor cuaca dan arah angin yang masih mendukung peningkatan risiko kebakaran di beberapa daerah.

Masyarakat, khususnya pengguna jalan, nelayan, petani, dan pelaku transportasi sungai diimbau untuk terus memantau informasi resmi BMKG. Langkah tersebut penting guna mengantisipasi dampak cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu dan berpotensi memengaruhi aktivitas harian.

BMKG juga meminta pemerintah daerah serta instansi terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang bersifat lokal. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, dampak yang mungkin ditimbulkan akibat perubahan cuaca diharapkan dapat diminimalkan.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan