PONTIANAK MEREKAM.COM, MOSKOW – Pemerintah Rusia menyebut senjata nuklir sebagai satu-satunya benteng yang masih mencegah dunia jatuh ke dalam perang global. Pernyataan keras itu disampaikan Kremlin di tengah meningkatnya kekhawatiran soal perlombaan senjata baru, setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat resmi berakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam sebuah forum kebijakan luar negeri di Moskow, Rabu (24/6/2026). Menurut Peskov, sistem keamanan global saat ini sedang terkikis dan dunia nyaris tidak lagi memiliki mekanisme penahan konflik besar selain kekuatan pencegah nuklir.
“Faktanya, kita tidak memiliki apa pun lagi di dunia ini selain pencegah nuklir. Itu satu-satunya hal yang melindungi dunia dari perang global,” kata Peskov dalam forum tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi ke depan bisa melahirkan jenis senjata non-nuklir baru yang daya rusaknya pada akhirnya dapat menyaingi senjata nuklir.
Ucapan Peskov datang di saat perjanjian New START, kesepakatan pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington, telah berakhir pada Februari lalu. Berakhirnya perjanjian itu menandai lenyapnya pembatas resmi terhadap dua negara dengan arsenal nuklir terbesar di dunia.
New START sendiri ditandatangani pada 2010 dan selama ini menjadi sisa terakhir dari rangkaian perjanjian pengendalian senjata era Perang Dingin. Lewat perjanjian itu, Rusia dan Amerika Serikat masing-masing dibatasi hanya boleh memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan. Namun sebelum perjanjian itu habis masa berlakunya, kedua negara sudah lebih dulu saling menuduh tidak patuh terhadap kesepakatan tersebut.
Hingga kini belum ada tanda-tanda Rusia dan Amerika Serikat akan memperbarui atau mengganti New START dalam waktu dekat. Meski begitu, Moskow dan Washington disebut telah sepakat membangun kembali pembicaraan militer tingkat tinggi, sebuah langkah yang dinilai penting untuk mencegah ketegangan makin tak terkendali.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin selama empat tahun invasi Moskow ke Ukraina berulang kali melontarkan retorika nuklir. Sikap itu menuai kritik dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang menilai ancaman semacam itu sebagai gertakan berbahaya dan sembrono.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga disebut mendorong lahirnya perjanjian baru yang tak hanya melibatkan Rusia dan AS, tetapi juga China. Namun Beijing secara terbuka menolak tekanan tersebut. Rusia bahkan menegaskan jika China ikut dalam perjanjian baru, maka sekutu nuklir AS seperti Inggris dan Prancis juga harus masuk dalam pembahasan.
Berakhirnya New START menjadi titik penting karena untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, dunia tidak lagi memiliki perjanjian aktif yang membatasi pengerahan senjata nuklir strategis. Situasi itu memperkuat kecemasan bahwa persaingan senjata antarnegara besar kini bisa bergerak tanpa pagar pengaman yang jelas.
Pernyataan Kremlin soal nuklir sebagai “satu-satunya pencegah perang global” pun menegaskan betapa rapuhnya lanskap keamanan dunia saat ini. Ketika kesepakatan lama runtuh dan belum ada pengganti, setiap retorika dari negara-negara pemilik senjata nuklir berpotensi menambah tekanan baru dalam politik global.
Penulis: Nv
Editor: Chairul

