PONTIANAKMEREKAM.COM, PYONGYANG – Korea Utara (Korut) selama ini dikenal sebagai salah satu negara paling terisolasi di dunia. Di bawah kepemimpinan Kim Jong-un, negara bersenjata nuklir ini terus dihujani sanksi ekonomi berlapis dari Dewan Keamanan PBB. Namun, sebuah pertanyaan besar kini mencuat di panggung geopolitik global: jika sokongan dari Beijing tiba-tiba dihentikan, bisakah ekonomi Korut bertahan?

Bukan rahasia lagi bahwa selama beberapa dekade terakhir, Negeri Tirai Bambu bertindak sebagai juru selamat sekaligus tali napas utama bagi kelangsungan hidup Pyongyang. Mulai dari pasokan minyak bumi, bahan pangan pokok, hingga aliran mata uang asing, hampir seluruhnya mengalir melalui jalur perbatasan Tiongkok.

Berdasarkan data rilis ekonomi internasional, persentase ketergantungan total perdagangan Korut terhadap China dilaporkan melesat hingga di atas angka 90 persen. Fakta ini menegaskan betapa rapuhnya posisi Pyongyang jika sang pelindung utama memutuskan untuk menarik dukungannya.

Menakar Tali Napas Pyongyang yang Nyaris Putus

Melihat angka ketergantungan yang luar biasa tinggi tersebut, para pengamat menilai skenario “Korut tanpa China” akan langsung memicu bencana kemanusiaan dan kelumpuhan instan di dalam negeri. Tanpa adanya hubungan dagang China Korut yang stabil, pasokan bahan bakar di Korut diproyeksikan bakal langsung menguap dalam hitungan minggu.

“China bukan sekadar mitra dagang bagi Korea Utara, melainkan penyangga struktural. Jika Beijing menutup total keran ekonominya, sistem domestik Korut dipastikan akan mengalami guncangan hebat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis laporan analisa DW, Selasa (2/6/2026).

Kendati demikian, Pyongyang tidak tinggal diam. Sadar posisinya terlalu didikte oleh Beijing, dalam beberapa waktu terakhir Korut dilaporkan mulai melirik opsi alternatif. Salah satunya adalah dengan mempererat poros kerja sama militer dan barter komoditas secara rahasia bersama Rusia demi mengamankan pasokan energi dan teknologi.

Alasan China Sulit Melepas Korea Utara

Namun, mengapa China tetap bersedia menjadi penopang utama meskipun Korut kerap memicu ketegangan regional melalui uji coba rudalnya? Jawabannya ada pada kepentingan strategis.

Bagi Beijing, runtuhnya rezim Kim Jong-un adalah mimpi buruk. Jika ekonomi Korut kolaps, wilayah perbatasan China akan langsung diserbu oleh jutaan pengungsi. Lebih jauh lagi, tumbangnya Korut berpotensi menyatukan Semenanjung Korea di bawah kendali Seoul yang disokong penuh oleh militer Amerika Serikat tepat di depan gerbang rumah China.

Pada akhirnya, interdependensi yang rumit ini membuat Korut diyakini masih akan terus bertahan di bawah bayang-bayang Beijing, sembari terus memainkan kartu diplomasi nuklirnya di kancah global.

Simak terus analisis tajam dan update berita internasional paling tepercaya hanya di sini!

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan