Asap Membumbung di Lebanon Selatan, Serangan Israel Berlanjut Meski Ada Kesepakatan AS-Iran
PONTIANAK MEREKAM.COM, LEBANON – Serangan udara Israel kembali mengguncang wilayah Lebanon selatan pada Sabtu (20/6/2026), meski sebelumnya telah ada kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kepulan asap tampak membumbung dari sejumlah titik di kawasan terdampak usai serangan tersebut.
Wilayah yang menjadi sasaran berada di kawasan Shweikin dan perbukitan Ali al-Tahir di Kegubernuran Nabatieh, Lebanon selatan. Foto-foto dari lokasi menunjukkan asap tebal mengepul dari area perbukitan dan permukiman setelah serangan udara menghantam kawasan itu.
Aksi militer Israel ini berlangsung di tengah harapan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran bisa meredakan konflik di sejumlah front kawasan, termasuk Lebanon. Namun di lapangan, bentrokan dan serangan lintas perbatasan masih terus berlanjut sehingga memunculkan keraguan terhadap efektivitas proses diplomasi yang sedang dijalankan.
Laporan yang dikutip detikcom menyebut serangan Israel di Lebanon selatan telah berlanjut dalam beberapa hari terakhir. Eskalasi itu dilaporkan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan pada bangunan dan infrastruktur sipil, sekaligus memperumit upaya penerapan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang dimediasi sejumlah pihak internasional.
Nabatieh menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak dalam eskalasi terbaru ini. Daerah tersebut berulang kali menjadi sasaran serangan udara dan artileri karena letaknya yang strategis di Lebanon selatan, wilayah yang selama ini menjadi salah satu titik panas konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di perbatasan.
Situasi keamanan yang terus memburuk memicu kekhawatiran warga setempat terhadap kemungkinan meluasnya konflik. Meski berbagai inisiatif diplomatik telah digulirkan, serangan terbaru ini menunjukkan bahwa kondisi di Timur Tengah masih sangat rapuh dan sewaktu-waktu bisa kembali memanas.
Berkelanjutannya serangan di Lebanon selatan juga menjadi sinyal bahwa jalur damai belum benar-benar mampu menghentikan aksi militer di lapangan. Jika eskalasi terus berlanjut, konflik ini berpotensi memperbesar instabilitas regional dan menyeret lebih banyak pihak ke dalam pusaran krisis yang lebih luas.
Penulis: Nv
Editor: Chairul
