PONTIANAK MEREKAM.COM, TEL AVIV – Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menolak keras kritik Amerika Serikat terhadap sikap para pejabat Tel Aviv yang menentang kesepakatan damai AS-Iran. Katz menegaskan tidak ada pihak mana pun yang bisa mendikte langkah Israel, terutama dalam menghadapi ancaman dari Iran dan kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.

Pernyataan itu disampaikan Katz dalam wawancara dengan media Israel, Channel 14, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Tel Aviv. Ia menegaskan bahwa jika Iran kembali menyerang, Israel akan merespons dengan cepat dan menggunakan kekuatan. Menurut Katz, seluruh kemampuan militer untuk itu sudah tersedia dan terus diperkuat.

“Tidak ada yang dapat memberitahu kami apa yang harus dilakukan,” tegas Katz. Ia juga menambahkan Israel bisa bertindak langsung saat serangan terjadi atau memilih waktu respons berikutnya sesuai kebutuhan strategis di lapangan.

Dalam pernyataannya, Katz mengeklaim Israel mampu berperang sendiri tanpa perlu campur tangan militer Amerika Serikat. Ia menyebut negaranya selama ini menghadapi Hizbullah di Lebanon, elemen jihadis di Suriah, hingga Hamas di Jalur Gaza dengan kekuatan sendiri. Menurut dia, yang diharapkan dari AS bukanlah payung militer, melainkan dukungan diplomatik bagi hak Israel untuk bertindak terhadap musuh-musuhnya.

Katz juga menegaskan Israel tidak akan menarik diri dari zona keamanan di sejumlah wilayah konflik. Ia menyebut Tel Aviv tidak akan meninggalkan posisi yang sudah dikuasai di Lebanon, Suriah, maupun Gaza dalam kondisi apa pun. Sikap itu memperlihatkan bahwa pemerintah Israel tetap ingin mempertahankan pijakan militernya di sejumlah front utama konflik kawasan.

Pernyataan keras Katz datang hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati nota kesepahaman untuk mengakhiri pertempuran di berbagai front, termasuk Lebanon. Namun, sejumlah pejabat dan menteri Israel justru mengkritik kesepakatan tersebut dan menyatakan tidak akan tunduk pada ketentuannya. Sebelumnya, Israel juga dilaporkan kesal karena tidak diberi akses melihat draft MoU AS-Iran sebelum rencana penandatanganan.

Sikap pembangkangan itu memicu kemarahan dari Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Vance menegur keras para pejabat Israel dan mengingatkan bahwa Washington merupakan satu-satunya sekutu kuat yang masih dimiliki Tel Aviv. Ia bahkan menyinggung besarnya bantuan senjata dari AS, dengan menyebut sebagian besar perlindungan pertahanan Israel dalam beberapa bulan terakhir dibangun dan dibiayai oleh Amerika.

Ketegangan ini menandai retaknya nada hubungan Washington dan Tel Aviv di tengah upaya pemerintahan AS mendorong stabilitas baru di Timur Tengah. Di satu sisi, Amerika ingin memastikan kesepakatan damai dengan Iran tetap berjalan. Namun di sisi lain, Israel menegaskan tidak akan membiarkan kebijakan keamanan nasionalnya ditentukan pihak luar, bahkan oleh sekutu terdekatnya sendiri.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan