Dolar AS Tembus Rp18.200, Rupiah Cetak Rekor Terlemah Baru di 2026

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin (8/6/2026) dan sempat menyentuh level Rp18.200 per dolar AS, menjadi salah satu titik terlemah sepanjang tahun ini. (ilustrasi)

PONTIANAK MEREKAM.COM, PONTIANAK – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali berlanjut. Pada perdagangan Senin (8/6/2026), mata uang Indonesia sempat menyentuh level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS), menandai posisi terlemah rupiah sepanjang tahun ini.

Data pasar menunjukkan dolar AS bergerak menguat sejak awal perdagangan. Setelah dibuka di kisaran Rp18.106 per dolar AS, mata uang Negeri Paman Sam terus menanjak hingga menembus level Rp18.201 pada perdagangan intraday. Tak lama kemudian, pergerakan dolar sedikit terkoreksi, namun tetap bertahan di atas Rp18.190 per dolar AS.

Penguatan dolar AS tersebut sekaligus memperpanjang tren pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Sepanjang 2026, nilai tukar dolar tercatat telah menguat lebih dari 9 persen terhadap rupiah. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena berdampak langsung terhadap biaya impor, harga bahan baku, hingga beban sektor usaha yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing.

Tidak hanya terhadap rupiah, dolar AS juga tercatat menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Penguatan terjadi terhadap euro, dolar Kanada, hingga franc Swiss. Situasi tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap dolar masih cukup tinggi di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.

Sejumlah pengamat menilai pelemahan rupiah dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi, terutama pada komoditas dan produk yang masih bergantung pada impor. Di sisi lain, sektor yang berorientasi ekspor berpotensi memperoleh keuntungan dari nilai tukar yang lebih tinggi karena penerimaan dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Berdasarkan data pasar valuta asing, kurs USD/IDR bergerak dalam rentang Rp17.984 hingga Rp18.203 pada perdagangan hari ini. Angka tersebut sekaligus menjadi level tertinggi baru yang pernah dicapai dolar AS terhadap rupiah dalam transaksi pasar.

Kondisi nilai tukar rupiah ke depan masih akan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebijakan suku bunga global, arus modal asing, hingga kondisi ekonomi domestik. Pelaku pasar kini menantikan langkah-langkah otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya tekanan eksternal.

Penulis: SB

Editor: Chairul

Iklan