Wali Kota Pontianak Soroti Tantangan Digitalisasi untuk Generasi Muda Saat Safari Ramadan

Suasana Safari Ramadan di salah satu masjid dengan jamaah mengikuti kegiatan keagamaan. Foto istimewa

PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Dalam rangkaian kegiatan Safari Ramadan 1447 H, Wali Kota Pontianak menekankan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan digitalisasi tanpa kehilangan pijakan nilai agama dan budaya.

Safari Ramadan merupakan program rutin Pemerintah Kota Pontianak untuk mempererat tali silaturahmi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat di berbagai titik wilayah. Pada kesempatan kali ini, kegiatan dilaksanakan di salah satu masjid besar di kota, dihadiri puluhan jamaah dari lintas usia dan latar belakang.

Dalam sambutannya, Wali Kota Pontianak menyampaikan bahwa perkembangan teknologi yang begitu pesat memberikan dampak besar terhadap kehidupan generasi muda. Di satu sisi, digitalisasi membuka peluang bagi kreativitas, inovasi, dan akses ilmu pengetahuan yang lebih luas. Namun di sisi lain, tanpa pengawasan dan pemahaman yang tepat, generasi muda berisiko kehilangan arah dan terjebak dalam konten negatif.

“Digitalisasi itu ibarat dua sisi mata uang. Kita harus memaksimalkan sisi positifnya untuk pendidikan dan kreativitas, tetapi juga waspada terhadap konten yang tidak sehat dan bisa merusak karakter,” ujar Wali Kota di hadapan jamaah.

Menurutnya, tantangan utama era digital bukan hanya soal kemajuan teknologi, tetapi bagaimana membingkai generasi muda agar tetap kuat di nilai agama dan budaya ketika berhadapan dengan arus informasi yang sangat cepat. Ia menegaskan bahwa peran keluarga, sekolah, dan komunitas sangat besar dalam mengarahkan penggunaan teknologi secara bijak.

Wali Kota juga menekankan pentingnya kegiatan positif seperti membaca buku, mengikuti kajian agama, serta kegiatan sosial sebagai upaya menyeimbangkan waktu antara penggunaan gadget dan kehidupan nyata. “Jangan sampai anak-anak kita menghabiskan waktunya hanya di layar. Teknologi harus jadi alat, bukan tujuan,” pesannya.

Safari Ramadan kali ini juga menjadi momentum bagi warga untuk berdiskusi langsung dengan pemerintah terkait tantangan lain menyambut bulan suci. Beberapa jamaah mengangkat isu soal kurangnya fasilitas pendukung kegiatan anak muda yang produktif di luar ranah digital, seperti ruang kreativitas dan pusat kegiatan komunitas.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Pontianak menyatakan komitmen pemerintah untuk terus mendorong pengembangan sarana yang mendukung keterlibatan generasi muda dalam kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan. Ia menyebut bahwa pembangunan fasilitas tersebut akan dipertimbangkan dalam program pembangunan kota ke depan.

Kajian tentang digitalisasi juga tidak lepas dari aspek pendidikan. Wali Kota menjelaskan bahwa dunia pendidikan harus lebih adaptif dalam menyikapi teknologi, termasuk memberikan pemahaman tentang etika digital, literasi media, dan keterampilan teknologi yang berguna bagi masa depan para pelajar.

Safari Ramadan berjalan dengan suasana penuh keakraban. Usai sambutan, jamaah bersama wali kota melanjutkan buka puasa bersama, salat maghrib berjamaah, dan diskusi ringan seputar kehidupan keluarga, pendidikan, serta ekspektasi generasi muda di era digital.

Kegiatan ini juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus spirit Ramadan yang penuh berbagi.

Warga yang hadir menyambut positif pesan wali kota. Banyak yang sepakat bahwa digitalisasi merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi bersama, tidak hanya oleh generasi muda tetapi oleh seluruh elemen masyarakat.

Dengan semangat kebersamaan dan refleksi nilai agama, Safari Ramadan di Pontianak kali ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang evaluasi penting terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat modern.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan