Susu UHT Mulai Langka di Pontianak, Stok Kosong Sejak Ramadan
PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Ketersediaan susu UHT di sejumlah supermarket di Pontianak mulai menjadi sorotan. Dalam beberapa bulan terakhir, terutama sejak Ramadan, produk susu UHT varian full cream dilaporkan semakin sulit ditemukan di pasaran.
Pantauan di sejumlah ritel modern menunjukkan rak susu, khususnya kemasan full cream ukuran 1 liter hingga ukuran kecil, kerap kosong. Sementara itu, produk yang masih tersedia umumnya hanya varian rasa seperti cokelat dan stroberi.
Kondisi ini tidak terjadi tanpa sebab. Pihak ritel mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan menjadi faktor utama yang menyebabkan stok cepat habis, sementara suplai dari distributor belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar.
Head of Merchandising salah satu supermarket di Pontianak menyebut, permintaan susu UHT meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, pasokan yang diterima dari supplier justru terbatas.
“Permintaan meningkat, tapi suplai dari distributor masih terbatas sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan,” ujarnya.
Dari sisi distributor, kendala juga terjadi pada rantai distribusi hingga kapasitas produksi. Informasi yang diterima pihak ritel menyebutkan bahwa keterbatasan mesin produksi turut memengaruhi jumlah pasokan yang dikirim ke pasar.
Selain itu, peningkatan kebutuhan dari segmen tertentu, termasuk dampak dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut memperbesar tekanan terhadap ketersediaan stok di pasaran.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah supermarket mulai menerapkan strategi pembatasan pembelian. Langkah ini dilakukan agar distribusi susu tetap merata dan konsumen umum masih bisa mendapatkan produk meski dalam jumlah terbatas.
“Kami tetap melakukan pemesanan maksimal, tapi juga membatasi penjualan supaya semua konsumen tetap kebagian,” lanjutnya.
Kelangkaan ini disebut sudah berlangsung sejak bulan puasa dan hingga kini belum sepenuhnya pulih. Bahkan, beberapa ritel menyebut stok susu UHT full cream masih sering kosong dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, ada harapan kondisi ini akan segera membaik. Informasi dari supplier menyebutkan bahwa distribusi diperkirakan mulai kembali normal dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Selain memperparah kelangkaan, tindakan tersebut juga dapat membuat distribusi semakin tidak merata.
Sebagai alternatif, konsumen juga masih dapat memilih varian susu UHT lain yang masih tersedia di pasaran, meskipun tidak semua jenis dan rasa tersedia lengkap.
Fenomena ini menjadi gambaran bagaimana peningkatan permintaan yang tidak diimbangi dengan kesiapan distribusi dan produksi dapat berdampak langsung pada ketersediaan barang di tingkat konsumen.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin sektor usaha lain yang bergantung pada pasokan susu UHT juga akan ikut terdampak.
Penulis: fz
Editor: Chairul
