Pontianak Rayakan Ramadan dan Imlek Secara Harmonis, Toleransi Antarumat Beragama Semakin Kuat
PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Di bawah satu langit yang sama, dua perayaan besar berlangsung secara harmonis di Kota Pontianak: Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah dan Perayaan Tahun Baru Imlek. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan simbol kuat toleransi dan keberagaman budaya yang hidup di tengah masyarakat Kota Khatulistiwa.
Sejak awal Februari, suasana kota terlihat semakin semarak dengan dekorasi lampion merah menghiasi beberapa ruas jalan di pusat kota. Tak jauh dari itu, ornamen ketupat dan hiasan islami turut menyemarakkan ruang publik sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Pemandangan ini mencerminkan pluralisme yang menyatu secara natural, di mana simbol budaya dari dua tradisi besar hidup berdampingan tanpa tumpang tindih.
Wali Kota Pontianak menegaskan bahwa keselarasan dua perayaan ini adalah bukti nyata kekuatan toleransi di masyarakat pontianak. Menurutnya, perbedaan bukan hal yang harus dipisahkan atau dihindari, melainkan sesuatu yang harus dirayakan bersama untuk memperkaya kehidupan sosial. “Kita bangga karena di kota ini kita bisa merayakan dua perayaan besar secara bersamaan tanpa friksi,” ujarnya kepada media setempat.
Masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan agama menunjukkan dukungan penuh terhadap semangat kebersamaan tersebut. Di beberapa titik, warga tampak saling menghormati ketika rombongan pawai obor Ramadan melintas, sementara di saat yang sama, perayaan Imlek tetap berjalan dengan atraksi barongsai yang memukau. Tidak ada rasa canggung atau merasa terganggu; yang terlihat justru dukungan dan apresiasi satu sama lain.
Para pedagang dan pelaku UMKM pun merasakan dampak positif dari suasana gembira ini. Stand kuliner yang menyediakan makanan khas Imlek ramai dikunjungi, begitu juga dengan kedai makanan yang menawarkan menu buka puasa khas Ramadan. Para pelaku usaha menyebut kombinasi perayaan ini justru meningkatkan daya serap pengunjung dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi mereka.
Salah satu warga yang ditemui mengaku bangga melihat harmoni yang terbangun di kota ini. “Kami melihat bagaimana keluarga kami bisa datang bersama, menikmati lampion, dan pada saat yang sama menghormati saudara kita yang tengah menunggu waktu buka puasa. Ini luar biasa,” ujar seorang pengunjung sambil tersenyum.
Tokoh agama lintas keyakinan juga sepakat bahwa perbedaan budaya bukanlah sumber konflik, melainkan kekayaan yang harus dirawat. Para ulama dan tokoh masyarakat sering kali turun bersama dalam dialog maupun kegiatan sosial lintas agama, memperkuat pondasi toleransi yang sarat akan rasa saling menghormati.
Dengan semangat ini, masyarakat Pontianak menunjukkan bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, tetapi telah menjadi bagian nyata dari kehidupan sehari-hari. Dua perayaan besar yang berlangsung bersamaan menjadi kesempatan untuk saling belajar, menghormati tradisi masing-masing, dan memperkuat tali persaudaraan antarsesama.
Fenomena ini pun mencuri perhatian banyak pihak di luar Kalbar. Beberapa pengunjung dari luar kota menyatakan kekaguman mereka atas cara Pontianak menjaga keharmonisan sosial. Bagi mereka, perayaan ganda ini bukan hanya tentang tradisi atau ritual, melainkan tentang bagaimana berbeda dapat tetap bersatu di bawah satu langit.
Penulis: fz
Editor: Chairul
