Pontianak Rayakan Imlek dan Ramadan Secara Damai dengan Dekorasi Lampion dan Ketupat di Jalan Gajah Mada
PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Kota Pontianak kembali menjadi contoh nyata harmoni sosial dan keberagaman budaya saat langkah dua perayaan besar — Tahun Baru Imlek dan bulan suci Ramadan 1447 H — berlangsung hampir bersamaan. Masyarakat setempat menyikapi momen ini dengan cara unik dan penuh makna: decorasi lampion khas Imlek berpadu dengan simbol ketupat khas Ramadan di sejumlah ruas jalan protokol kota, termasuk Jalan Gajah Mada.
Pantauan suasana di titik-titik dekorasi menunjukkan ratusan lampion merah dan kuning bergantungan di sepanjang jalan utama, sementara ornamen ketupat menghiasi sejumlah sudut area pejalan kaki. Kombinasi visual ini tidak hanya memperindah ruang publik saat malam hari, tetapi juga menjadi simbul kuat toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di kota yang dikenal sebagai Kota Khatulistiwa.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan bahwa perayaan Imlek tetap dijalankan sesuai tradisi yang sudah hidup dan berkembang di Pontianak, sementara pemerintah kota juga memastikan pelaksanaan ibadah puasa Ramadan berlangsung dengan tenang dan nyaman. “Kami ingin menunjukkan bahwa Pontianak tetap menjadi kota yang toleran, di mana pelaksanaan budaya dan ibadah dapat berlangsung berdampingan dengan saling menghormati,” ujarnya.
Edi menambahkan bahwa kolaborasi visual antara lampion dan ketupat bukan sekadar dekorasi estetis, namun mencerminkan kehidupan masyarakat yang rukun dalam perbedaan dan saling menghargai. Perpaduan simbol dua perayaan besar ini menunjukkan bagaimana masyarakat menjaga ruang sosial agar inklusif bagi semua kalangan.
Perayaan Imlek di Pontianak tahun ini tetap dimeriahkan dengan pemasangan ribuan lampion di sejumlah ruas jalan yang menjadi daya tarik warga serta wisatawan. Meski begitu, rangkaian kegiatan ini diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu ibadah puasa Ramadan serta aktivitas umat Islam di tengah kota.
Selain lampion, pemerintah bersama panitia lokal juga menyiapkan rangkaian tradisi Cap Go Meh yang akan menampilkan replika naga sepanjang puluhan meter sebagai bagian dari perayaan Imlek. Atraksi ini akan dipersingkat dan dipusatkan di area utama dengan koordinasi ketat bersama aparat keamanan guna menjaga kenyamanan umum.
Momen unik ini juga membawa dampak ekonomi positif. Prediksi pengunjung dari luar daerah datang menyambut Imlek diperkirakan akan meningkatkan kunjungan ke kawasan kuliner seperti Festival Kuliner di Jalan Diponegoro — area favorit warga dan wisatawan sekaligus ruang berkumpul para pelaku UMKM.
Respon masyarakat terhadap suasana ini pun sangat positif. Sejumlah warga mengapresiasi dekorasi yang menghiasi kota serta kegembiraan yang terasa tanpa mengurangi esensi ibadah Ramadan. “Kami tetap bisa menjalankan puasa dengan tenang, sekaligus ikut merasakan nuansa Imlek yang damai,” ujar Ibrahim, warga Pontianak Timur.
Hal senada juga disampaikan warga keturunan Tionghoa, Tjhang Sau Khiu, yang mengaku bahagia karena tradisi Imlek dapat dirayakan secara khidmat tanpa mengurangi rasa hormat terhadap mereka yang menjalankan ibadah puasa.
Dengan semangat toleransi yang terwujud di bawah lampion dan ketupat, Pontianak kembali menunjukkan bahwa keberagaman bukan hanya diterima, tetapi dirayakan secara harmonis dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya
Penulis: fz
Editor: Chairul
