PONTIANAKMEREKAM.COM, YOGYAKARTA — Sorotan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali muncul setelah pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengimbau agar penggunaan ultra processed food (UPF) dalam menu program tersebut dihentikan. Pernyataan ini dilontarkan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah dan mencegah risiko kesehatan jangka panjang.

Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, pakar gizi dari Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat UGM, menilai masih adanya UPF dalam menu MBG bertentangan dengan kampanye kesehatan nasional yang menekankan pengurangan gula, garam, dan lemak berlebih. Menurutnya, meskipun efek buruknya tidak langsung terlihat, konsumsi tinggi UPF di kalangan anak bisa menjadi “bom waktu penyakit kronis” dalam 10–15 tahun ke depan.

Pakar tersebut menambahkan bahwa bahan pangan lokal yang segar lebih cocok digunakan di sekolah karena gizi dan manfaatnya lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh anak. Selain itu, penanganan makanan oleh sekolah dianggap lebih efektif dalam menjamin keamanan dan kualitas makanan yang disajikan.

Ultra processed food (UPF) adalah kategori makanan yang diproduksi secara industri melalui banyak proses, mengandung bahan tambahan sintetis, pemanis, penguat rasa, hingga lemak dan garam dalam jumlah tinggi, serta memiliki nilai gizi rendah. Produk ini sering hadir dalam bentuk ready-to-eat atau ready-to-heat seperti makanan cepat saji, kue kemasan, minuman manis, atau camilan olahan.

Berbeda dari makanan olahan ringan (seperti susu pasteurisasi atau sayur beku), UPF melalui banyak langkah industri dengan penambahan berbagai additive, yang membuatnya hiper-lezat namun kurang bernutrisi.

Bukti ilmiah dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tinggi UPF yang terus-menerus dapat berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan jangka panjang. Beberapa hasil penelitian internasional menyebutkan bahwa pola makan tinggi UPF seringkali dikaitkan dengan:

  • obesitas dan resistensi insulin, meningkatkan risiko diabetes tipe 2;

  • gangguan metabolisme dan penyakit kardiovaskular;

  • peradangan kronis yang mendorong penyakit serius lain;

  • gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi;

  • dan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.

Selain itu, UPF sering kekurangan serat, vitamin, dan mineral penting, membuat tubuh tidak mendapatkan nutrisi optimal dari pola makan yang dominan makanan ini.

Anak sekolah adalah kelompok yang masih dalam fase pertumbuhan fisik dan kognitif. Asupan nutrisi yang kurang seimbang — terutama jika dominan berasal dari UPF — dapat menggangu perkembangan optimal jangka panjang seperti sistem kekebalan tubuh, konsentrasi belajar, serta risiko kronis di kemudian hari.

Pakar gizi UGM menilai bahwa penggunaan UPF dalam program MBG justru bertentangan dengan tujuan utama program, yaitu menciptakan generasi sehat dan berkualitas menjelang Indonesia Emas 2045.

Menurut para ahli, solusi yang lebih baik adalah mengutamakan bahan pangan lokal yang segar, sesuai dengan budaya setempat. Menu olahan sehari-hari yang berbasis bahan alami cenderung lebih kaya nutrisi, membantu pertumbuhan anak, serta lebih kompatibel dengan pola makan sehat jangka panjang.

Tentu saja, bukan berarti semua makanan olahan harus dihindari, tetapi konsumsi UPF yang berlebihan perlu dikurangi secara signifikan demi kesehatan yang lebih baik. (nv)

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Banner BlogPartner Backlink.co.id Seedbacklink