Densus 88 Ungkap Motif Siswa SMP Kalbar Lempar Molotov: Terinspirasi Kekerasan di Luar Negeri
PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Detasemen Khusus Densus 88 Antiteror Polri mengungkap motif di balik tindakan seorang siswa SMP yang melempar bom molotov ke area sekolah di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dilansir dari CNN Indonesia, penyidik menyebut bahwa sang pelaku terinspirasi oleh aksi kekerasan luar negeri serta paparan konten ekstrem melalui komunitas daring.
Menurut pernyataan yang dirangkum oleh aparat, siswa tersebut menunjukkan ketertarikan pada kasus-kasus kekerasan bersenjata di luar negeri. Selain paparan konten yang intens di internet, diketahui pelajar itu juga terhubung dengan kelompok daring bernama True Crime Community (TCC) yang kerap membahas kasus kriminal dan kekerasan ekstrem. Dilansir dari detik.com, tulisan-tulisan dari TCC bahkan ditemukan di dalam barang miliknya.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana, mengatakan bahwa kombinasi paparan konten kekerasan serta pengalaman pribadi pelaku berpotensi memicu dorongan negatif. “Dari pemeriksaan awal, yang bersangkutan menunjukkan pola ketertarikan yang tinggi terhadap aksi kekerasan dunia, yang kemudian membentuk motivasi tindakan itu,” ujar Mayndra di lokasi pemeriksaan.
Dalam proses penyidikan, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti berbahaya selain bom molotov rakitan, di antaranya botol berisi bahan bakar, gas portabel yang disambungkan petasan, paku, serta pisau — alat-alat yang menunjukkan persiapan menuju tindakan kekerasan tersebut. Dilansir dari detik.com, semua bukti ini diamankan untuk dianalisis lebih lanjut sebagai bagian dari proses hukum.
Insiden pelemparan bom molotov terjadi pada Selasa (3/2/2026) saat siswa sedang menjalani kegiatan belajar mengajar. Aksi siswa kelas IX itu sempat menciptakan kepanikan di lingkungan sekolah. Meski demikian, api berhasil dipadamkan petugas dan tidak menimbulkan korban jiwa. Dilansir dari detik.com, satu siswa dilaporkan mengalami luka ringan akibat terkena percikan api.
Selain faktor konten kekerasan global, penyidik juga menemukan unsur tekanan psikologis lain yang mungkin berkontribusi terhadap perilaku pelaku. Di antaranya adalah situasi perundungan (bullying) yang pernah dialami siswa tersebut di lingkungan sekolah maupun tekanan dari keluarga. Hal ini masih menjadi fokus pendalaman oleh tim ahli psikologi forensik bersama Densus 88 dalam proses pemeriksaan.
Menanggapi kejadian itu, pihak sekolah mengambil tindakan cepat dengan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sementara untuk meredakan keresahan siswa dan orang tua. Dinkes setempat pun ikut mengimbau orang tua untuk lebih mengawasi aktivitas anak, termasuk aktivitas daring yang berpotensi memperkuat paparan konten negatif.
Aparat kepolisian kini terus mengembangkan penyelidikan untuk menguraikan lebih jauh hubungan antara paparan konten kekerasan di luar negeri dan tindak kekerasan yang dilakukan pelajar tersebut. Polisi juga mengimbau publik untuk tidak berspekulasi terkait motivasi dan latar belakang kasus hingga hasil pemeriksaan resmi diumumkan.
Penulis: SB
Editor: Chairul
