Mengenal Makna Budaya Festival Pawai Obor di Kalimantan Barat: Tradisi, Simbol, dan Nilai Sosial

Mengenal Makna Budaya Festival Pawai Obor di Kalimantan Barat: Tradisi, Simbol, dan Nilai Sosial. ilustrasi

PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK- Festival pawai obor di Kalimantan Barat telah menjadi tradisi budaya yang sarat makna sosial dan religius di tengah masyarakat. Acara ini tidak sekadar mengarak obor menyala di malam hari, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan identitas budaya lokal yang dijaga secara turun-temurun.

Setiap tahun, terutama menjelang bulan suci Ramadan, ribuan warga di berbagai daerah Kalbar berkumpul membawa obor yang dinyalakan di malam hari. Lampu api yang menyala tidak hanya menerangi jalan, tetapi menjadi simbol harapan dan doa untuk menyambut waktu ibadah yang khidmat dan penuh berkah.

Tradisi ini kerap melibatkan masyarakat lintas usia — mulai dari pelajar, pemuda, hingga orang dewasa. Banyak organisasi masyarakat dan kelompok remaja masjid turut serta, menandakan bahwa festival pawai obor bukan sekadar acara seremonial, tetapi juga ajang mempererat hubungan sosial antar warga.

Di Pontianak sendiri, pawai obor sering dilepas dari titik tertentu seperti Halaman Masjid Raya Mujahidin, kemudian menyusuri ruas-ruas kota di malam hari. Aktivitas ini tak jarang mendapat dukungan pejabat setempat dan masyarakat luas, karena dianggap sebagai salah satu ritual budaya yang memperkuat nilai silaturahmi dan kerukunan sosial.

Tradisi pawai obor juga menjadi bagian dari cara masyarakat Kalimantan Barat memupuk kedisiplinan dan solidaritas komunitas, terutama saat menghadapi perubahan sosial yang cepat di masa modern. Nilai-nilai kolektif ini diperkuat lewat partisipasi bersama dalam kelompok, sehingga generasi muda tidak hanya melihat obor sebagai simbol cahaya, tetapi juga representasi kebersamaan lintas generasi.

Selain itu, festival pawai obor juga turut digelar di beberapa daerah lain di Kalbar, seperti Sekadau dan daerah pedalaman lainnya. Di sana, tradisi ini sering dihubungkan dengan kegiatan keagamaan dan sosial yang mempererat ikatan komunitas lokal. Partisipasi kelompok sekolah, remaja musholla, serta warga kampung kerap memeriahkan suasana tradisi yang penuh makna ini.

Budaya pawai obor semacam ini sebenarnya tidak hanya ditemukan di Kalbar, tetapi juga di berbagai daerah Indonesia dalam beragam konteks. Misalnya, beberapa wilayah di Jawa dan Kalimantan Selatan juga memiliki tradisi obor atau pawai lampion sebagai bagian dari perayaan keagamaan atau kebudayaan lokal.

Terlebih menjelang bulan suci seperti Ramadan, Festival Pawai Obor di Pontianak kerap menjadi magnet yang menyatukan masyarakat dari berbagai lapisan — dari orang tua hingga anak muda. Ratusan hingga ribuan obor yang menyala bagaikan untaian cahaya yang melintasi malam, mengajak warga untuk merenungkan makna spiritual sekaligus menjaga nilai budaya yang telah diwariskan leluhur.

Kegiatan ini juga sering disertai dengan ragam acara lain seperti lomba, bazar UMKM, ataupun pentas seni lokal, menjadikannya tidak hanya simbol religius, tetapi juga momentum ekonomi dan kreatif bagi warga setempat.

Dengan demikian, Festival Pawai Obor di Kalimantan Barat bukan sekadar parade lampu-lilin, tetapi sebuah tradisi kaya nilai yang menyatukan komunitas — sekaligus menjadi bentuk nyata pelestarian budaya Indonesia yang beragam.

Penulis: SB

Editor: Chairul

Iklan