JAKARTA — Kebiasaan tidur kerap dianggap sepele, padahal sejumlah penelitian medis terbaru menunjukkan bahwa pola tidur yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan. Gangguan tidur bukan hanya memicu kelelahan, tetapi juga berdampak langsung pada tekanan darah, detak jantung, hingga metabolisme tubuh.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah mengingatkan bahwa kualitas dan durasi tidur sama pentingnya dengan pola makan dan aktivitas fisik dalam menjaga kesehatan jantung.

Tidur Terlalu Singkat atau Terlalu Lama Berisiko

Salah satu kebiasaan tidur yang paling berisiko adalah tidur kurang dari 6 jam per malam. Kurang tidur menyebabkan tubuh berada dalam kondisi stres kronis, meningkatkan hormon kortisol, dan memicu peradangan yang berkontribusi terhadap penyakit jantung koroner.

Sebaliknya, tidur terlalu lama (lebih dari 9 jam) juga tidak selalu sehat. Penelitian menunjukkan durasi tidur berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko gagal jantung dan stroke, terutama jika disertai kualitas tidur yang buruk.

“Tidur ideal untuk orang dewasa berkisar 7–8 jam per malam dengan kualitas tidur yang baik,” ujar seorang dokter jantung dalam keterangan medisnya.

Tidur Larut dan Jam Tidur Tidak Teratur

Kebiasaan tidur larut malam atau jam tidur yang berubah-ubah, terutama pada pekerja shift dan generasi muda, juga berdampak buruk pada jantung. Pola tidur tidak teratur dapat mengganggu ritme sirkadian, yakni jam biologis tubuh yang mengatur tekanan darah dan denyut jantung.

Ketika ritme ini terganggu, risiko hipertensi, aritmia, dan penyakit jantung iskemik meningkat. Efek ini bisa bertambah parah jika disertai konsumsi kafein berlebihan atau penggunaan gawai sebelum tidur.

Tidur Sambil Mendengkur Keras Jangan Dianggap Sepele

Mendengkur keras disertai napas terhenti saat tidur bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA). Kondisi ini membuat kadar oksigen dalam darah turun secara berulang, sehingga jantung harus bekerja lebih keras.

Penderita sleep apnea memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung, stroke, hingga gagal jantung, terutama jika tidak ditangani secara medis.

Tidur Setelah Makan Berat

Kebiasaan langsung tidur setelah makan malam berat juga patut diwaspadai. Selain memicu gangguan pencernaan dan GERD, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas tidur dan memicu peradangan sistemik yang berdampak pada kesehatan jantung.

Dokter menyarankan memberi jeda 2–3 jam antara waktu makan malam dan tidur untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal.

Dampak Jangka Panjang yang Sering Tak Disadari

Gangguan tidur yang berlangsung lama dapat memicu:

  • Tekanan darah tinggi

  • Kolesterol tidak terkontrol

  • Resistensi insulin dan diabetes

  • Peradangan kronis pembuluh darah

Semua faktor tersebut merupakan pemicu utama penyakit jantung dan pembuluh darah, penyebab kematian tertinggi di dunia.

Cara Tidur Sehat untuk Jantung

Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana:

  • Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari

  • Hindari layar ponsel minimal 1 jam sebelum tidur

  • Batasi kafein dan rokok di malam hari

  • Ciptakan kamar tidur yang tenang dan gelap

  • Segera periksa ke dokter jika sering mendengkur atau sulit tidur

“Tidur bukan sekadar istirahat, tapi proses vital untuk pemulihan jantung,” tegas tenaga medis.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan