PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Menjelang libur nasional Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 2026, umat Islam di Indonesia kembali diingatkan pada salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan spiritual Rasulullah SAW, tetapi juga momentum refleksi atas perjuangan, keteguhan iman, serta keteladanan akhlak Nabi Muhammad dalam menghadapi ujian hidup.
Peringatan Isra Mi’raj yang jatuh pada bulan Rajab ini kerap menjadi waktu bagi masyarakat untuk memperdalam pemahaman keislaman, baik melalui pengajian, tausiyah, maupun membaca kembali kisah-kisah inspiratif para nabi dan tokoh Islam.
Peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada masa yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn atau tahun kesedihan. Saat itu, Nabi Muhammad SAW baru saja kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya: Khadijah binti Khuwailid, istri tercinta, dan Abu Thalib, paman sekaligus pelindung beliau.
Di tengah tekanan dakwah, penolakan kaum Quraisy, hingga penderitaan fisik dan mental, Allah SWT menghibur Rasulullah dengan memperjalankan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu naik ke Sidratul Muntaha (Mi’raj). Dari peristiwa inilah umat Islam menerima perintah salat lima waktu, sebagai tiang agama dan sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Isra Mi’raj menjadi simbol bahwa pertolongan Allah selalu datang setelah kesabaran, sekaligus pengingat bahwa ibadah salat adalah kekuatan utama seorang Muslim dalam menghadapi cobaan hidup.
Kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW tidak hanya tercermin dalam Isra Mi’raj. Sejak awal kenabian, beliau menghadapi berbagai bentuk penindasan, mulai dari cemoohan, pemboikotan ekonomi, hingga ancaman pembunuhan.
Namun, Rasulullah tidak pernah membalas keburukan dengan kebencian. Ketika dilempari batu di Thaif hingga berdarah, beliau justru berdoa agar kaumnya kelak mendapat hidayah. Sikap ini menunjukkan akhlak mulia, kesabaran luar biasa, dan keikhlasan dalam berdakwah.
Nilai-nilai tersebut relevan hingga hari ini, terutama dalam kehidupan sosial yang penuh perbedaan pendapat dan tantangan moral.
Selain perjuangan Nabi Muhammad SAW, momen Isra Mi’raj juga kerap diisi dengan pengingat dari kisah-kisah Islami lain yang penuh pelajaran hidup:
1. Kesabaran Nabi Ayyub AS
Nabi Ayyub diuji dengan penyakit berat dan kehilangan harta, namun tetap bersyukur dan tidak berputus asa. Kisah ini mengajarkan bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan jalan peningkatan derajat iman.
2. Keikhlasan Nabi Ibrahim AS
Keteguhan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah, termasuk saat diuji dengan perintah menyembelih putranya, menjadi teladan tentang ketaatan total kepada Sang Pencipta.
3. Keberanian Nabi Musa AS
Dalam menghadapi Fir’aun yang zalim, Nabi Musa menunjukkan bahwa kebenaran harus disampaikan meski di hadapan kekuasaan yang menindas.
Kisah-kisah ini menguatkan pesan bahwa iman, kesabaran, dan tawakal merupakan fondasi utama kehidupan seorang Muslim.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, Isra Mi’raj mengingatkan pentingnya menjaga hubungan spiritual dengan Allah SWT. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana menenangkan jiwa dan membangun keteguhan moral.
Peringatan Isra Mi’raj juga menjadi momentum memperkuat nilai kejujuran, empati sosial, dan keteladanan akhlak, khususnya di tengah tantangan moral generasi masa kini.
Menjelang libur Isra Mi’raj 2026, umat Islam diajak tidak hanya memperingati peristiwa bersejarah, tetapi juga meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW serta kisah-kisah Islami lainnya. Dari kesabaran, keikhlasan, hingga keteguhan iman, seluruh kisah tersebut menjadi pedoman hidup yang relevan sepanjang zaman.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada jalan kemuliaan bagi mereka yang bersabar dan bertawakal.
Penulis: Nv
Editor: Chairul

