Indonesia Perkokoh Diplomasi Ekonomi Hadapi Gejolak Global: Strategi, Kerja Sama, dan Tantangan Realitas Baru
PONTIANAKMEREKAM.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia semakin mengintensifkan diplomasi ekonomi sebagai instrumen utama untuk menghadapi gejolak ekonomi global yang kian kompleks. Ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia telah mendorong Indonesia mengadopsi pendekatan diplomasi yang lebih strategis dan adaptif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional serta memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.
Diplomasi ekonomi kini bukan sekadar tentang perdagangan dan bisnis bilateral, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas—di mana kebijakan ekonomi dipergunakan sebagai alat daya saing di tengah persaingan global. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyatakan bahwa dunia kini memasuki realitas baru di mana batas antara ekonomi dan keamanan semakin kabur, dan banyak negara menggunakan kebijakan ekonomi sebagai instrumen kekuatan geopolitik. Kondisi ini berdampak pada perdagangan, investasi, serta teknologi, yang kerap menjadi bagian dari persaingan antarnegara.
“Dalam kenyataan baru ini, kekuatan ekonomi suatu negara tidak lagi diukur hanya dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuan bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan global,” kata Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2026 di Jakarta.
Meski tekanan global begitu kuat, Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif kuat. Menurut Sugiono, indikator-indikator fundamental seperti pertumbuhan di atas rata-rata global, inflasi terkendali, surplus perdagangan, dan realisasi investasi yang tinggi memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Pendekatan diplomasi ekonomi ini dijalankan berbarengan dengan kebijakan domestik yang menjaga stabilitas makro, termasuk kebijakan fiskal dan moneter yang responsif terhadap gejolak global.
Strategi Diplomasi Ekonomi Indonesia di Level Internasional
1. Perluasan Kerja Sama Ekonomi
Pemerintah telah menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama ekonomi penting sepanjang 2025, termasuk:
- Perjanjian kerja sama dengan Kanada, Peru, dan Uni Ekonomi Eurasia
- Upaya memperluas akses pasar melalui CEPA (Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif) dengan Uni Eropa
- Penerapan dan pemanfaatan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China 3.0
- Implementasi kemitraan ekonomi dengan Jepang dan rencana kerja sama baru di Afrika seperti Rwanda.
Tujuan dari seluruh perjanjian ini adalah mengurangi risiko sistemik dan ketergantungan pada pasar tradisional, serta membuka pasar baru bagi produk ekspor Indonesia.
2. Inovasi dan Inklusi Keuangan
Sebagai bagian dari diplomasi ekonomi, Indonesia juga mendorong inovasi finansial, termasuk fasilitasi pembayaran lintas batas melalui mekanisme seperti QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang kini telah digunakan di negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, Singapura, China, dan Jepang.
Indonesia juga mendorong kolaborasi regional di kawasan Indo-Pacific sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam ASEAN Indo-Pacific Forum 2025 menegaskan pentingnya kerja sama antarnegara kawasan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global, mengingat kawasan ini menyumbang sebagian besar pertumbuhan dan perdagangan global. Kolaborasi ini mencakup kerja sama perdagangan dan investasi, serta diplomasi ekonomi yang memperkuat peran Indo-Pacific sebagai pusat dinamika ekonomi global.
Kemitraan strategis dengan mitra ASEAN dan negara lain juga menjadi fokus utama Indonesia. Misalnya, Indonesia–Vietnam memperkuat kerja sama di tengah ketidakpastian global, memperluas hubungan perdagangan dan investasi. Upaya ini sejalan dengan strategi diplomasi Indonesia untuk menjaga stabilitas kawasan, memperluas jaringan perdagangan, dan memanfaatkan peluang pasar baru di negara-negara berkembang.
Diplomasi ekonomi Indonesia juga mendapat pujian dari Pemerintah. Pada Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi terhadap kinerja diplomasi Menlu Sugiono yang aktif memperjuangkan kepentingan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global, terutama saat negosiasi tarif dengan Amerika Serikat dan menjaga momentum kerja sama internasional.
Meskipun strategi diplomasi ekonomi Indonesia telah menunjukkan hasil positif, tantangan global tetap nyata, berupa persaingan kebijakan proteksionis, gejolak perang dagang, dan tantangan struktural perekonomian global. Pemerintah Indonesia dituntut untuk terus memperkuat ketahanan ekonomi melalui integrasi kebijakan luar negeri dan domestik. Kerja sama lintas kawasan, inklusi keuangan, serta diversifikasi pasar menjadi elemen penting bagi Indonesia untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memanfaatkan peluang di tengah gejolak global.
Diplomasi ekonomi Indonesia menghadapi gejolak global tidak hanya sebagai retorika, tetapi telah diwujudkan dalam berbagai negosiasi kerja sama internasional, inovasi finansial, dan strategi diversifikasi pasar. Pendekatan ini dilatari oleh realitas di mana kebijakan ekonomi telah menjadi instrumen geopolitik penting.
Di tengah tantangan global—termasuk perlambatan ekonomi, persaingan tarif, dan ketidakpastian pasar—Indonesia berupaya menjaga pertumbuhan yang solid, stabilitas makro, dan daya saing global melalui diplomasi ekonomi yang strategis, adaptif, dan berkelanjutan.
Penulis: Nv
Editor: Chairul
