Ketar-ketir China Usai Kembali Catat Rekor Kelahiran Terendah
PONTIANAKMEREKAM.COM, BEIJING – Pemerintah China kembali dibuat khawatir setelah negara tersebut mencatat rekor kelahiran terendah sepanjang sejarah modern. Tren penurunan angka kelahiran yang terus berlanjut menimbulkan kekhawatiran serius terhadap masa depan ekonomi, stabilitas sosial, serta keberlanjutan tenaga kerja di negara dengan populasi terbesar kedua di dunia itu.
Data terbaru menunjukkan jumlah bayi yang lahir di China kembali menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini memperpanjang tren penurunan kelahiran yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, bahkan setelah pemerintah mencabut kebijakan satu anak dan memperbolehkan pasangan memiliki dua hingga tiga anak.
Para demografer menilai penurunan kelahiran ini bukan sekadar persoalan kebijakan, melainkan cerminan perubahan sosial dan ekonomi yang mendalam. Biaya hidup yang tinggi, tekanan pekerjaan, mahalnya biaya pendidikan, serta perubahan pandangan generasi muda terhadap pernikahan dan keluarga menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat menunda atau bahkan enggan memiliki anak.
Di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen, biaya membesarkan anak dinilai semakin tidak terjangkau. Harga properti yang tinggi, persaingan pendidikan yang ketat, serta tuntutan karier membuat banyak pasangan memilih fokus pada stabilitas ekonomi dibandingkan menambah anggota keluarga.
Kondisi ini membuat pemerintah China berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, negara tersebut menghadapi penuaan populasi yang cepat, sementara di sisi lain jumlah penduduk usia produktif terus menyusut. Jika tren ini berlanjut, China berpotensi mengalami kekurangan tenaga kerja, perlambatan pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan beban sistem jaminan sosial.
Sebagai respons, pemerintah pusat dan daerah telah meluncurkan berbagai kebijakan pro-kelahiran. Insentif berupa bantuan tunai, keringanan pajak, subsidi perumahan, hingga cuti melahirkan yang lebih panjang mulai diterapkan di sejumlah wilayah. Namun, hingga kini kebijakan tersebut dinilai belum mampu membalikkan tren penurunan kelahiran secara signifikan.
Para pengamat menilai tantangan terbesar terletak pada perubahan pola pikir generasi muda. Banyak anak muda China yang kini memprioritaskan kebebasan pribadi, kesehatan mental, dan keseimbangan hidup. Menikah dan memiliki anak tidak lagi dianggap sebagai keharusan sosial seperti pada generasi sebelumnya.
Selain itu, tingkat pengangguran usia muda yang masih relatif tinggi turut memperburuk situasi. Ketidakpastian ekonomi membuat pasangan muda merasa belum siap secara finansial untuk membesarkan anak. Hal ini semakin memperkuat kecenderungan untuk menunda pernikahan atau memilih hidup tanpa anak.
Dampak jangka panjang dari rekor kelahiran terendah ini dinilai sangat serius. Ekonom memperingatkan bahwa penurunan populasi dapat melemahkan daya saing global China, mengurangi konsumsi domestik, serta menekan pertumbuhan ekonomi di masa depan. Sementara itu, sektor kesehatan dan layanan lansia diprediksi akan menghadapi tekanan besar seiring meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut.
Pemerintah China disebut tengah mengkaji kebijakan yang lebih agresif, termasuk reformasi sistem pendidikan dan perumahan, guna menciptakan lingkungan yang lebih ramah keluarga. Namun, para ahli menilai perubahan struktural tersebut membutuhkan waktu panjang dan tidak bisa memberikan hasil instan.
Rekor kelahiran terendah ini menjadi peringatan serius bagi China bahwa tantangan demografi telah menjadi isu strategis nasional. Tanpa langkah komprehensif dan berkelanjutan, penurunan jumlah penduduk berpotensi menjadi salah satu hambatan terbesar bagi ambisi China mempertahankan posisinya sebagai kekuatan ekonomi global.
Penulis: SB
Editor: Chairul
