Pilu Bocah 10 Tahun di NTT Akhiri Hidup, Psikolog Buka Suara soal Kesehatan Mental Anak

Pilu Bocah 10 Tahun di NTT Akhiri Hidup, Psikolog Buka Suara soal Kesehatan Mental Anak. foto ilustrasi

PONTIANAKMEREKAM.COM, NTT – Kejadian memilukan menimpa seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya pada usia 10 tahun. Dilansir dari detik.com, bocah tersebut diduga bunuh diri karena kecewa permintaannya untuk dibelikan buku tulis dan pulpen sekolah tidak dipenuhi oleh sang ibu akibat keterbatasan ekonomi keluarga.

Kejadian ini memicu berbagai pertanyaan seputar kondisi kesehatan mental anak di usia dini. Untuk memahami hal tersebut, psikolog klinis Anna Surti Ariani menjelaskan bahwa pemahaman anak tentang kematian berkembang seiring usia, namun belum matang secara emosional pada usia sekitar 7–12 tahun.

Menurut psikolog yang akrab disapa Nina, anak di usia 2–7 tahun seringkali belum memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen. Pada rentang usia ini, mereka bisa berpikir bahwa seseorang yang meninggal masih bisa “kembali” seolah dalam pemahaman imajinatif mereka. Namun pada usia 7–12 tahun, anak mulai memahami bahwa kematian umumnya adalah permanen bagi orang lain, tetapi seringkali belum sepenuhnya merenungkan konsekuensinya pada diri sendiri. Dalam banyak kasus, pemahaman tersebut bisa menjadi rancu dan memicu keputusan ekstrem saat mereka merasa tertekan.

Nina menegaskan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam kesehatan mental anak, terutama dalam menciptakan hubungan emosional yang hangat dan dekat sehingga anak memiliki “ruang aman” untuk menyampaikan perasaan mereka. Tanpa dukungan dan pemahaman yang cukup, tekanan psikologis sederhana pun bisa terasa besar bagi anak yang belum memiliki kemampuan matang menilai konsekuensi panjang dari tindakan drastis seperti bunuh diri.

Psycholog juga menyarankan agar orang tua lebih peka terhadap perubahan perilaku yang bisa menjadi tanda masalah mental dini, seperti menjadi sangat pendiam, menarik diri dari kegiatan sehari-hari, atau perubahan range emosi yang drastis seperti murung dan mudah menangis. Perubahan-perubahan ini sering disebut sebagai alarm penting yang sepatutnya direspons dengan kehangatan dan dialog terbuka.

Tragedi ini memicu respons lebih luas di masyarakat dan pemerintahan. Selain perhatian dari psikolog, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah menegaskan perlunya skrining kesehatan mental anak yang lebih sistematis, termasuk menyediakan layanan psikologi klinis di puskesmas untuk mendeteksi dan menangani masalah kesehatan jiwa sejak dini.

Kasus yang sangat menguras emosi ini juga mendapat sorotan dari berbagai pihak, termasuk organisasi perlindungan anak dan politisi, yang menekankan bahwa isu kesehatan mental anak dan tekanan psikososial dari kondisi ekonomi atau pendidikan merupakan masalah kompleks yang perlu respons lintas sektor.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan