PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Distribusi BBM di Sekadau belum normal dan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU masih menjadi pemandangan familiar di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Para pengguna kendaraan roda dua dan roda empat terpaksa menunggu lama untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) karena suplai yang terus bergantung pada pasokan dari PT Pertamina Patra Niaga di Pontianak yang belum stabil.

Admin SPBU 64.796.003 di Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir, Sumi, mengatakan kondisi suplai BBM hingga kini belum kembali normal. Tingginya waktu tempuh distribusi dari Pontianak sekitar enam sampai delapan jam ditambah proses pengisian di depot membuat waktu pemasokan sering kali bergeser dari jadwal semula. Karena itu, antrean panjang yang biasanya muncul di pagi hari kini terlihat sejak malam hingga menjelang siang.

Untuk hari tertentu, pasokan Pertalite yang tiba di SPBU hanya sekitar 16 kiloliter dan mulai dijual setelah proses pembongkaran pada dini hari. Sedangkan di SPBU 64.735.05 di Desa Peniti, waktu kedatangan suplai cenderung berubah dan banyak tiba pada malam hari, membuat penjualan BBM langsung dilakukan setelah pembongkaran selesai.

Masalah ini membuat warga sering tidak menemukan BBM pada jam siang dan pagi hari, sehingga mereka harus menunggu hingga malam untuk bisa mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada konsumen lokal, tetapi juga bagi kendaraan lintas kabupaten dan kota yang lewat jalur utama dari Pontianak ke wilayah hulu Kalimantan Barat.

Kepala Bidang Perdagangan dan Ketenagakerjaan Kabupaten Sekadau, Yoewono Sudarsono, SE, membenarkan bahwa masalah suplai BBM masih terjadi karena ketergantungan pada pasokan dari depot di Pontianak. Ia menjelaskan bahwa rute distribusi yang panjang dan keterbatasan moda transportasi mengakibatkan pasokan sering terlambat tiba di SPBU.

Dalam rapat bersama pemerintah daerah, perwakilan Pertamina diundang untuk memberikan penjelasan dan kepastian suplai BBM. Salah satu penyebab gangguan distribusi yang diungkap pihak Pertamina adalah faktor alam. Kapal pengangkut BBM tidak dapat melintasi alur sungai karena kondisi sungai yang dangkal, sehingga tidak bisa menjangkau depot di Sintang yang selama ini menjadi titik penyangga distribusi ke wilayah timur Kalimantan Barat, termasuk Sekadau.

Wakil Bupati Sekadau, Subandrio, SH, MH, menekankan pentingnya solusi jangka panjang dalam menghadapi distribusi BBM yang belum normal, terutama menjelang Ramadan dan Hari Raya Idulfitri. Ia meminta koordinasi intens antara pemerintah daerah dan Pertamina agar kelangkaan BBM tidak semakin memburuk di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Masyarakat berharap pihak terkait dapat segera memperbaiki jalur distribusi dan menjamin ketersediaan BBM secara merata di wilayah Sekadau agar antrean panjang dan kelangkaan tidak lagi terjadi.

Penulis: fz

Editor: Chairul

Iklan