Klarifikasi Purbaya soal MSCI: Pemerintah Nilai Pasar Bereaksi Berlebihan terhadap Laporan Morgan Stanley
PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Pemerintah memberikan klarifikasi atas laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memicu tekanan di pasar saham Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai reaksi pelaku pasar terhadap laporan tersebut berlangsung berlebihan dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.
Purbaya menyampaikan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt di Bursa Efek Indonesia, lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar global menyusul catatan MSCI terkait transparansi dan struktur pasar saham Indonesia. Menurutnya, laporan tersebut masih berada pada tahap awal dan bukan keputusan final.
“Reaksi pasar terlalu cepat. Laporan MSCI itu masih awal dan masih ada waktu untuk perbaikan. Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat,” ujar Purbaya dalam keterangannya kepada awak media.
MSCI sebelumnya menyoroti sejumlah aspek teknis pasar modal Indonesia, termasuk isu free float saham dan praktik perdagangan yang dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan standar indeks global. Catatan tersebut memicu kekhawatiran investor, terutama terkait potensi perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks MSCI, yang menjadi acuan banyak investor institusi global.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah bersama otoritas terkait, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), telah melakukan koordinasi untuk menindaklanjuti masukan tersebut. Ia menekankan bahwa otoritas pasar memiliki waktu hingga beberapa bulan ke depan untuk melakukan penyesuaian sebelum MSCI mengambil keputusan lanjutan.
Menurutnya, tekanan yang terjadi di pasar saham lebih bersifat psikologis dibandingkan struktural. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “shock sementara” yang lazim terjadi ketika pasar merespons informasi eksternal secara serentak tanpa menunggu klarifikasi resmi dari otoritas.
Selain faktor MSCI, Purbaya juga menyinggung keberadaan saham-saham berkapitalisasi kecil dengan volatilitas tinggi yang kerap menjadi sorotan. Ia menilai penguatan pengawasan terhadap saham-saham tersebut perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pasar modal dan menjaga kepercayaan investor jangka panjang.
Di sisi lain, Purbaya memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga. Perbankan dinilai memiliki permodalan yang kuat, likuiditas memadai, serta rasio kredit bermasalah yang terkendali. Faktor-faktor tersebut, menurutnya, menjadi penopang utama kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Sejumlah pengamat pasar menilai klarifikasi pemerintah penting untuk meredam kepanikan dan mengembalikan kepercayaan pelaku pasar. Mereka menilai laporan MSCI seharusnya dipahami sebagai masukan teknis yang bertujuan mendorong perbaikan tata kelola pasar, bukan sebagai sinyal pelemahan fundamental ekonomi.
Tekanan terhadap IHSG juga terjadi di tengah dinamika global, termasuk ketidakpastian kebijakan moneter negara maju dan arus modal asing yang sensitif terhadap sentimen risiko. Kondisi ini membuat pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, rentan terhadap gejolak jangka pendek.
Purbaya mengimbau investor agar tetap tenang dan mencermati data fundamental sebelum mengambil keputusan investasi. Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi dan terus melakukan reformasi struktural untuk memperkuat daya saing pasar keuangan nasional.
Dengan adanya klarifikasi ini, pemerintah berharap pasar dapat kembali bergerak secara rasional dan mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya. Otoritas juga menegaskan kesiapan untuk berdialog dengan MSCI guna memastikan pasar modal Indonesia tetap kompetitif dan kredibel di mata investor global.
Penulis: SB
Editor: Chairul
