PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Pemerintah China secara resmi melarang warganya bepergian ke Jepang selama libur Tahun Baru Imlek menyusul meningkatnya ketegangan diplomatik antara kedua negara tetangga. Imbauan ini dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri China pada Senin (26/1/2026) dan disampaikan kepada publik melalui kanal resmi, sebagaimana dilansir detik.com.

Dalam pernyataannya, Departemen Urusan Konsuler Kementerian Luar Negeri China menyebut bahwa “keamanan publik di Jepang telah memburuk” dengan seringnya kejadian tindakan ilegal dan kriminal yang menargetkan warga negara China. Akibatnya, warga China yang berada di Jepang disarankan untuk memperhatikan situasi keamanan dan mengambil langkah perlindungan diri apabila diperlukan.

Imbauan tersebut muncul di tengah hubungan bilateral yang memanas antara Beijing dan Tokyo. Ketegangan itu dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025, yang mengatakan bahwa Tokyo bisa mempertimbangkan intervensi militer jika China menyerang Taiwan. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari pemerintah China dan berdampak pada hubungan politik serta sosial antara kedua negara.

Akibat dari kebijakan itu, jumlah wisatawan dari China ke Jepang menurun tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pada Desember 2025, jumlah kunjungan turun sekitar 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi sekitar 330.000 pengunjung, menurut data yang dirilis media detik.com. Penurunan ini dipandang sebagai dampak langsung dari imbauan dan kekhawatiran keamanan di kalangan wisatawan China.

Kementerian Luar Negeri China menekankan bahwa larangan ini terutama berlaku selama periode libur Tahun Baru Imlek yang panjang pada bulan Februari mendatang — saat banyak warga China biasanya melakukan perjalanan domestik maupun internasional. Pemerintah China juga menyinggung sejumlah gempa bumi yang terjadi di Jepang sebagai salah satu alasan tambahan memperkuat imbauan keamanan tersebut.

Sebelum imbauan terbaru ini, wisatawan China pernah menyumbang sekitar seperempat dari total wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, hampir 7,5 juta wisatawan dari China tercatat melakukan perjalanan ke negeri Sakura, dengan pengeluaran mencapai nilai miliaran dolar AS. Angka itu menunjukkan betapa pentingnya pasar China bagi industri pariwisata Jepang.

Meski demikian, libur Tahun Baru Imlek yang berlangsung sembilan hari di China biasanya menjadi puncak musim perjalanan bagi wisatawan domestik maupun luar negeri. Imbauan pemerintah Beijing diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke Jepang pada periode tersebut.

Meskipun hubungan kedua negara mengalami tekanan diplomatik, pemerintah Jepang sebelumnya menyatakan harapan untuk tetap menjaga keseimbangan hubungan bilateral serta mengundang wisatawan dari berbagai negara, termasuk China. Namun, keputusan otoritas China telah mempengaruhi dinamika perjalanan internasional di kawasan Asia Timur.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan