PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Serangan jantung kerap dianggap sebagai kondisi yang selalu ditandai nyeri dada hebat dan mendadak. Padahal, dokter mengingatkan bahwa gejala serangan jantung pada sebagian orang bisa menyerupai gangguan asam lambung atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Kesamaan gejala inilah yang sering membuat pasien terlambat mendapatkan pertolongan medis, dengan risiko fatal yang mengintai.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah menjelaskan bahwa baik serangan jantung maupun GERD sama-sama dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di dada. Sensasi tersebut sering digambarkan sebagai nyeri, panas, tertekan, atau seperti terbakar, sehingga kerap disalahartikan sebagai masalah pencernaan biasa.
Nyeri Dada Tak Selalu Masalah Lambung
Dalam praktik medis, tidak sedikit pasien yang datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada yang awalnya mereka anggap sebagai kambuhnya asam lambung. Padahal, setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti EKG dan tes enzim jantung, nyeri tersebut ternyata merupakan tanda awal serangan jantung.
Dokter menjelaskan bahwa nyeri dada akibat serangan jantung tidak selalu muncul secara tiba-tiba dan intens. Pada beberapa kasus, rasa nyeri bisa datang perlahan, terasa ringan, atau hilang timbul, sehingga membuat penderita merasa tidak perlu segera mencari pertolongan medis.
“Ini yang berbahaya. Pasien mengira hanya GERD, minum obat lambung, padahal yang terjadi adalah gangguan aliran darah ke jantung,” jelas seorang dokter spesialis jantung.
Gejala yang Sering Tumpang Tindih
Beberapa gejala serangan jantung yang sering disalahartikan sebagai GERD antara lain:
-
Rasa panas atau terbakar di dada
-
Nyeri di ulu hati
-
Mual dan muntah
-
Perut terasa kembung
-
Tidak nyaman setelah makan
Namun, serangan jantung biasanya disertai gejala tambahan yang perlu diwaspadai, seperti:
-
Nyeri menjalar ke lengan kiri, bahu, punggung, leher, atau rahang
-
Sesak napas
-
Keringat dingin
-
Pusing atau kepala terasa ringan
-
Rasa cemas berlebihan tanpa sebab jelas
-
Jantung berdebar tidak normal
Jika keluhan nyeri dada disertai salah satu gejala tersebut, dokter menegaskan agar segera mencari pertolongan medis, bukan hanya mengandalkan obat lambung.
Risiko Tinggi pada Kelompok Tertentu
Dokter juga menekankan bahwa kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung dengan gejala tidak khas, terutama:
-
Penderita diabetes
-
Lansia
-
Wanita
-
Perokok aktif
-
Penderita hipertensi dan kolesterol tinggi
Pada kelompok ini, gejala serangan jantung sering kali lebih samar dan tidak selalu berupa nyeri dada hebat. Bahkan, beberapa pasien hanya merasakan lelah berlebihan atau gangguan pencernaan ringan.
“Pada penderita diabetes, saraf nyeri bisa terganggu, sehingga tanda serangan jantung tidak terlalu terasa,” jelas dokter.
Kapan Harus ke Rumah Sakit?
Dokter menyarankan masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan jika mengalami nyeri dada yang:
-
Tidak biasa atau berbeda dari biasanya
-
Tidak membaik setelah minum obat lambung
-
Muncul saat beraktivitas atau stres
-
Disertai sesak napas dan keringat dingin
Penanganan serangan jantung sangat bergantung pada kecepatan pasien mendapatkan pertolongan medis. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang menyelamatkan otot jantung dan mencegah komplikasi serius.
Pencegahan Tetap Jadi Kunci
Selain mengenali gejala, dokter mengingatkan pentingnya langkah pencegahan dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti:
-
Berhenti merokok
-
Mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol
-
Rutin berolahraga
-
Mengelola stres
-
Mengatur pola makan rendah lemak dan gula
Masyarakat juga diimbau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.
“Lebih baik waspada dan diperiksa, daripada terlambat dan menyesal,” tegas dokter.
Penulis: Nv
Editor: Chairul

