Setelah Iran, Kini Giliran Inggris Krisis: PHK dan Pengangguran di Mana-mana, Apa Penyebabnya?
PONTIANAKMEREKAM.COM, LONDON – Pasar tenaga kerja Inggris menghadapi tekanan serius memasuki awal 2026. Data resmi terbaru menunjukkan angka pengangguran yang semakin tinggi disertai gelombang PHK di berbagai sektor ekonomi, memicu kekhawatiran akan pelemahan ekonomi lebih luas di negara itu.
Informasi terbaru dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan jumlah pekerja di Inggris menurun signifikan, dengan penurunan jumlah pekerjaan mencapai 43.000 dalam sebulan terakhir, angka terbesar sejak akhir 2020. Tingkat pengangguran bertahan di sekitar 5,1 persen, tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Angka Tenaga Kerja Memperlihatkan Pelemahan Nyata
Angka resmi menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Inggris tengah melemah. Penurunan jumlah pekerjaan dipicu terutama oleh kontraksi di sektor ritel, perhotelan, dan jasa terkait, dimana banyak perusahaan harus merumahkan atau memberhentikan karyawan karena melemahnya permintaan konsumen. Selain itu, pertumbuhan upah melambat, terutama di sektor swasta, yang turut menekan daya beli pekerja dan memperburuk kondisi pasar tenaga kerja.
PHK dan Redundansi Meningkat Tajam
Data indikator utama redundansi menunjukkan lonjakan pemberitahuan PHK mendekati titik tertinggi dalam tiga tahun terakhir, terutama setelah pengumuman kebijakan anggaran yang memuat peningkatan pajak dan biaya tenaga kerja. Lonjakan ini menjadi peringatan terhadap potensi pemutusan hubungan kerja yang lebih luas di bulan-bulan mendatang.
Peningkatan pemutusan hubungan kerja ini juga terlihat di berbagai survei sektor swasta, di mana para analis mencatat penurunan tajam dalam rekrutmen dan permintaan tenaga kerja baru. Faktor ini memperparah situasi karena pencari kerja menghadapi persaingan yang semakin ketat sementara posisi pekerjaan baru terus menyusut.
Penyebab Utama Krisis Tenaga Kerja Inggris
Analisis ekonom menunjukkan beberapa faktor yang memicu gelombang PHK dan kenaikan pengangguran di Inggris:
1. Kebijakan Pajak dan Biaya Tenaga Kerja Meningkat
Kenaikan kontribusi jaminan sosial (National Insurance) dan biaya upah minimum nasional telah menaikkan biaya operasional perusahaan. Banyak usaha kecil dan menengah menanggapi biaya ini dengan memperlambat perekrutan atau memberhentikan pekerja untuk menjaga kelangsungan operasi.
2. Melambatnya Permintaan Domestik & Ekspor
Aktivitas bisnis di sektor ritel dan manufaktur dilaporkan melemah seiring perlambatan permintaan domestik dan tantangan ekspor. Penurunan pesanan internasional menyebabkan beberapa industri mengurangi tenaga kerja untuk menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan aktual.
3. Dampak Kebijakan Anggaran & Ketidakpastian Ekonomi
Kebijakan fiskal pemerintah yang mencakup pengurangan insentif, besaran pajak lebih tinggi, dan pengeluaran publik yang ketat menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor dan pengusaha. Kebijakan tersebut, meskipun ditujukan untuk stabilisasi jangka panjang, turut mengurangi kepercayaan bisnis dalam mempekerjakan pekerja baru.
4. Keterbatasan Pertumbuhan Ekonomi
Dengan proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah dari rata-rata historis, sektor bisnis menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi dan perekrutan — yang turut menekan lapangan kerja.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Lonjakan pengangguran tidak hanya berdampak pada statistik ekonomi, tetapi juga berimplikasi luas pada kehidupan masyarakat. Data terbaru menunjukkan peningkatan tajam jumlah orang yang mengklaim tunjangan sosial, mencerminkan tekanan pendapatan pada keluarga pekerja. Hal ini menjadi tantangan politik bagi pemerintah, yang harus menyeimbangkan kebijakan ekonomi dengan kebutuhan perlindungan sosial.
Kelambatan pertumbuhan upah, terutama di sektor swasta, mengurangi daya beli konsumen, yang kemudian menekan permintaan barang dan jasa — menciptakan lingkaran setan yang memperburuk pasar tenaga kerja.
Respon Pemerintah dan Bank of England
Bank of England tengah mempertimbangkan respons kebijakan moneter yang hati-hati terhadap kondisi ini. Penurunan pertumbuhan upah dan melemahnya pasar tenaga kerja dapat memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan pelonggaran suku bunga guna mendorong investasi dan aktivitas ekonomi. Namun, para ekonom menekankan bahwa keputusan tersebut harus seimbang agar tidak memicu tekanan inflasi kembali meningkat.
Sementara itu, pemerintah meningkatkan program pelatihan dan penempatan kerja untuk membantu kelompok pekerja muda dan mengurangi kesenjangan keterampilan di pasar kerja. Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk mempercepat transisi pencari kerja ke sektor dengan permintaan yang lebih tinggi, seperti teknologi dan layanan profesional.
Krisis tenaga kerja di Inggris pada awal 2026 ditandai oleh kenaikan angka pengangguran, gelombang PHK yang meningkat, dan perlambatan rekrutmen di berbagai sektor. Penyebab utamanya termasuk kenaikan biaya tenaga kerja, kebijakan fiskal yang memberatkan bisnis, serta ketidakpastian ekonomi makro yang menekan kepercayaan pasar. Trennya menunjukkan pasar kerja yang melemah, memicu respons kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sosial.
Penulis: SB
Editor: Chairul
