PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Pernyataan terbaru dari miliarder teknologi Elon Musk kembali menjadi topik hangat di media sosial. Musk mengingatkan bahwa gelar sarjana berpotensi kehilangan relevansinya dalam waktu sekitar empat tahun ke depan karena laju perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang sangat cepat.

Pernyataan itu muncul saat Musk berdiskusi dengan Dr. Peter Diamandis tentang masa depan kerja dan pendidikan di era AI yang semakin dominan. Ide Musk ini kemudian viral di platform seperti X (dulu Twitter) dan TikTok, terutama di kalangan generasi muda.

Menurut Musk, kemampuan dan pengetahuan yang diasah manusia selama bertahun-tahun di perguruan tinggi bisa dengan cepat dilampaui oleh AI dalam hitungan detik, karena AI mampu:

  • mengakses, memproses, dan mensintesis informasi dari berbagai bidang jauh lebih cepat daripada manusia,

  • serta belajar pola dan teknik kompleks secara otomatis tanpa perlu kuliah formal.

Dalam kerangka ini, Musk memperkirakan bahwa dalam kurun waktu yang relatif singkat (sekitar empat tahun), nilai praktis dari gelar sarjana sebagai bukti kemampuan akademis bisa semakin tergerus oleh kecanggihan teknologi.

Pernyataan Musk bukan kali pertama ia mengkritik sistem pendidikan formal. Selama bertahun-tahun, ia telah sering menyampaikan pandangan bahwa:

  • Kuliah tidak menjamin keterampilan nyata, terutama bila materi yang diajarkan tidak berubah mengikuti perkembangan industri.

  • Semua hal bisa dipelajari secara mandiri, terutama lewat internet dan pengalaman praktis.

  • Bahkan, dirinya pernah menyatakan bahwa gelar kuliah bisa berlebihan dan bahwa sukses di banyak bidang tidak tergantung pada gelar formal.

Dalam percakapan yang viral ini, Musk menekankan bahwa AI akan menjadi “perpanjangan otak manusia” sehingga kemampuan yang dulu sebanding dengan gelar akademik bisa dihasilkan oleh mesin kecerdasan buatan.

Walaupun terlihat provokatif, pernyataan Musk lebih merupakan kritik terhadap sistem pendidikan yang kaku daripada pelarangan kuliah. Ia ingin menekankan bahwa:

✅ Gelar sarjana sendiri tidak otomatis menjamin kesiapan kerja, khususnya di era transformasi digital.
Kemampuan praktis, keterampilan adaptasi, dan pemikiran kritis cenderung lebih penting daripada sekadar ijazah.
✅ Perkembangan AI akan membuat banyak keterampilan tradisional berubah atau tergantikan jika tidak terus diperbarui.

Jadi maksudnya bukan gelar sarjana benar-benar “tidak berguna selamanya,” tetapi nilai relatifnya akan berubah sesuai dengan kebutuhan cepat di pasar kerja era AI.

🧠 Kenapa Pernyataan Ini Viral & Kontroversial?

Beberapa alasan mengapa pernyataan ini ramai dibagikan:

  • Kontras dengan pandangan pendidikan tradisional yang selama ini menempatkan gelar sarjana sebagai tiket utama di dunia kerja.

  • Relevan di era AI, di mana perusahaan teknologi semakin mengutamakan keterampilan praktis.

  • Muncul dari tokoh berpengaruh, terutama pemimpin beberapa perusahaan besar seperti Tesla, SpaceX, dan X.

Namun, banyak pakar pendidikan dan analis juga mengingatkan bahwa institusi pendidikan tetap memiliki peran penting, terutama dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, jaringan sosial profesional, serta dasar teori yang kuat.

💡 Inti dari pernyataan Elon Musk adalah bahwa dalam waktu dekat, terutama dengan revolusi AI, gelar sarjana mungkin tidak lagi menjadi jaminan utama kompetensi atau relevansi profesional — bukan berarti gelar itu sepenuhnya tidak berguna, tetapi bahwa nilai gelar akan bergeser, dengan kemampuan praktis, pembelajaran berkelanjutan, dan pemecahan masalah menjadi lebih penting di era teknologi maju.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan