Lagi Rame di Medsos: Banyak Orang Tertipu ‘Bocah’ Timothy Ronald — Modus & Jumlah Korbannya

Timothy Ronald membagikan kisah sukses di usia muda. (Instagram/@timothyronaldd)

PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Isu dugaan penipuan investasi kripto yang melibatkan nama Timothy Ronald menjadi salah satu topik paling ramai dibicarakan warganet di media sosial akhir-akhir ini. Richard muncul setelah laporan resmi ke Polda Metro Jaya oleh sejumlah orang yang mengaku menjadi korban kerugian besar akibat ajakan investasi dalam komunitas yang dipopulerkan oleh influencer itu.

Kasus ini mengundang perhatian publik karena menyangkut ratusan hingga ribuan masyarakat yang merasa “tertipu” oleh skema investasi yang dijalankan melalui Akademi Crypto, sebuah komunitas edukasi dan rekomendasi aset kripto yang dipimpin Timothy bersama rekannya, Kalimasada.

Timothy Ronald dikenal di media sosial sebagai influencer keuangan dan kripto, sering membagikan konten investasi, gaya hidup, dan prediksi pasar kripto. Ia didapuk oleh para pengikutnya sebagai “Raja Kripto Indonesia” karena sering memamerkan pencapaian finansial dan gaya hidup mewah yang konon berasal dari investasi digital.

Namun baru-baru ini, nama Timothy kembali viral bukan karena konten motivasi atau asetnya, melainkan karena banyak anggota komunitas yang mengaku merugi mengikuti rekomendasi yang diberikan melalui Akademi Crypto.

Para korban dan pelapor menyebutkan beberapa strategi yang digunakan dalam komunitas investasi ini:

1. Janjikan Potensi Keuntungan Tinggi

Banyak anggota komunitas mengatakan bahwa mereka diajak membeli atau menahan aset kripto tertentu dengan janji keuntungan besar, termasuk klaim potensi return hingga ratusan persen. Namun faktanya, banyak aset tersebut justru anjlok drastis atau bahkan kehilangan nilainya sepenuhnya.

2. Sinyal Rekomendasi & “Call Altcoin”

Dalam terekam di beberapa unggahan, komunitas disebut melakukan banyak call altcoin — yaitu rekomendasi beli/hold pada aset dengan target keuntungan tinggi — termasuk coin seperti AVS Kalimasada, GMT, Tenet, NGL, Aevo, Manta, dan lain-lain. Banyak dari aset ini justru rungkat (merugi) sampai minus 80–100% sehingga investasi awal nyaris hilang.

3. Tekanan dan Fear of Missing Out (FOMO)

Anggota komunitas disebut sering didorong untuk menahan aset bahkan saat harga turun drastis dengan janji target tinggi sebagaimana klaim sebelumnya. Pola ini menimbulkan tekanan psikologis dan “fear of missing out” yang membuat sejumlah orang terus mempertahankan aset di harga rendah sampai rugi besar.

Hingga kini kasus ini masih dalam tahap investigasi oleh aparat kepolisian, tetapi beberapa angka awal telah muncul:

Jumlah Korban

  • Sekitar 300 orang sudah mendaftarkan diri sebagai korban dan sedang diproses untuk memberikan keterangan awal kepada polisi.

  • Sementara informasi di media sosial menyebut kemungkinan jumlah korban yang lebih luas, termasuk disebut-sebut mencapai ribuan orang dalam kelompok grup Discord atau komunitas Akademi Crypto yang lebih besar.

Estimasi Kerugian

  • Jumlah kerugian dari para investor dilaporkan mencapai lebih dari Rp200 miliar secara kolektif menurut pengaduan awal yang beredar.

  • Beberapa individu juga menyatakan kerugian signifikan: salah satu pelapor disebut rugi sekitar Rp3 miliar, dan influencer lain mengaku rugi sekitar Rp150 juta akibat mengikuti arahan investasi tersebut.

Data ini masih bersifat awal dan berkembang, karena polisi masih melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap pelapor dan saksi.

Kasus ini telah dilaporkan secara resmi ke Polda Metro Jaya pada Januari 2026 atas dugaan penipuan investasi trading kripto yang dilakukan oleh Timothy Ronald dan rekannya, Kalimasada. Polisi mengonfirmasi adanya laporan dan sedang melakukan tahap penyelidikan (lidik) dan memanggil pelapor serta saksi untuk pemeriksaan lanjutan.

Pihak kepolisian memastikan bukti-bukti akan dianalisis termasuk dokumen komunikasi, bukti transfer, serta pernyataan dari korban yang telah mendaftar hingga ratusan orang.

Isu ini tidak hanya menjadi perbincangan soal kerugian finansial, tetapi juga memicu gelombang kritik warganet terhadap perilaku influencer yang dinilai lebih fokus pada citra dibanding tanggung jawab terhadap anggota komunitas. Sejumlah unik konten, kritik tajam, dan diskusi negatif tentang peran figur semacam ini bertebaran di platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter.

Penolakan ini makin kuat setelah unggahan Instagram dari akun netizen yang menyebut adanya kerugian jutaan hingga puluhan juta sekaligus tuntutan pertanggungjawaban bagi pendiri Akademi Crypto.

Kasus ini menjadi pengingat kuat bagi siapa pun yang tertarik investasi kripto:

📌 Verifikasi kredibilitas platform/mentor sebelum ikut investasi
📌 Hindari janji keuntungan tidak realistis — apalagi tanpa bukti konkret
📌 Jangan mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan hype atau FOMO
📌 Laporkan ke otoritas jika merasa dirugikan

Investasi kripto berisiko tinggi, dan tanpa pengawasan atau regulasi kuat, konsekuensi kerugian bisa cepat terjadi.

 

Fenomena ramai dibicarakan di media sosial ini bukan sekadar gosip viral. Ada laporan polisi resmi, dugaan ratusan hingga ribuan korban, dan estimasi kerugian puluhan hingga ratusan miliar rupiah yang terkait dengan komunitas Akademi Crypto yang dipimpin oleh Timothy Ronald. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, namun sudah membuka diskusi luas tentang risiko investasi kripto, peran influencer, dan pentingnya kehati-hatian masyarakat dalam memilih peluang finansial.

 

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan

Banner BlogPartner Backlink.co.id Seedbacklink