Di Indonesia Digenjot, Singapura Justru Mulai Tinggalkan Mobil Listrik, Ini Alasannya
PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Saat Indonesia gencar mendorong penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai solusi transportasi masa depan, tren berbeda justru mulai terlihat di Singapura. Negara kota tersebut disebut mulai mengurangi antusiasme terhadap mobil listrik murni, meski sebelumnya menjadi salah satu pionir elektrifikasi transportasi di Asia Tenggara.
Perbedaan arah kebijakan ini memunculkan pertanyaan: mengapa Indonesia mengejar EV, sementara Singapura justru mengevaluasi ulang?
Di Indonesia, kendaraan listrik tidak hanya diposisikan sebagai alat transportasi ramah lingkungan, tetapi juga sebagai strategi industrialisasi nasional. Pemerintah mendorong EV untuk:
-
mengurangi ketergantungan impor BBM,
-
memanfaatkan cadangan nikel sebagai bahan baku baterai,
-
membangun ekosistem industri baterai dan kendaraan listrik dari hulu ke hilir.
Insentif pajak, subsidi pembelian, hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya terus digenjot. Targetnya jelas: menjadikan Indonesia pemain utama industri EV global.
Singapura: Fokus Efisiensi, Bukan Sekadar Listrik
Berbeda dengan Indonesia, Singapura memiliki pendekatan yang lebih pragmatis dan berbasis efisiensi ruang serta emisi riil. Beberapa alasan utama Singapura mulai “melambatkan” euforia mobil listrik antara lain:
1. Masalah Lingkungan Tidak Hanya di Knalpot
Singapura menilai mobil listrik memang nol emisi di jalan, tetapi tidak sepenuhnya bebas dampak lingkungan. Produksi baterai lithium-ion dinilai:
-
menghasilkan emisi karbon besar,
-
membutuhkan energi tinggi,
-
menimbulkan tantangan daur ulang.
Bagi Singapura, solusi transportasi hijau tidak hanya soal jenis mesin, tetapi mengurangi jumlah mobil secara keseluruhan.
2. Transportasi Umum Lebih Efektif
Singapura memiliki sistem MRT dan bus listrik yang sangat efisien. Pemerintah setempat menilai:
satu mobil listrik tetap memakan ruang jalan dan parkir, sama seperti mobil bensin.
Karena itu, fokus utama Singapura adalah:
-
menekan kepemilikan mobil pribadi,
-
meningkatkan kualitas transportasi massal,
-
mendorong berjalan kaki dan sepeda.
3. Harga Mobil Listrik Tetap Mahal
Meski ada insentif, harga mobil listrik di Singapura masih sangat tinggi karena:
-
Certificate of Entitlement (COE) yang mahal,
-
keterbatasan pasar,
-
biaya kepemilikan kendaraan yang sengaja ditekan pemerintah.
Akibatnya, EV tidak otomatis menjadi solusi transportasi rakyat, melainkan tetap barang premium.
4. Evaluasi Terhadap Beban Listrik Nasional
Singapura juga mempertimbangkan dampak EV terhadap:
-
beban jaringan listrik nasional,
-
ketergantungan pada impor energi,
-
stabilitas pasokan jangka panjang.
Dengan wilayah kecil dan sistem kelistrikan terpusat, lonjakan EV justru berpotensi menimbulkan tantangan baru.
Indonesia dan Singapura: Tujuan Sama, Cara Berbeda
Meski terlihat bertolak belakang, tujuan Indonesia dan Singapura sejatinya sama: menurunkan emisi karbon. Perbedaannya terletak pada konteks nasional.
-
Indonesia: EV menjadi alat percepatan industri, hilirisasi, dan transisi energi.
-
Singapura: fokus pada efisiensi kota, pengendalian kendaraan, dan transportasi publik.
Dengan kondisi geografis, demografi, dan ekonomi yang berbeda, kebijakan transportasi pun tak bisa disamakan.
Mobil listrik bukan solusi tunggal untuk semua negara. Indonesia melihat EV sebagai peluang strategis jangka panjang, sementara Singapura menilai bahwa mengurangi ketergantungan pada mobil pribadi—apa pun jenis mesinnya—lebih efektif bagi kota kecil dan padat.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa transisi energi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter masing-masing negara, bukan sekadar mengikuti tren global.
Penulis: SB
Editor: Chairul
