PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Platform gim daring Roblox kembali menjadi perhatian publik setelah muncul kekhawatiran bahwa game populer di kalangan anak-anak ini kerap dimanfaatkan sebagai sarana kejahatan digital. Sejumlah laporan orang tua dan pengamat keamanan siber menilai, fitur interaksi bebas di dalam Roblox membuka celah bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk menyasar pengguna usia dini.

Roblox sendiri bukan sekadar permainan biasa. Secara teknis, platform ini merupakan ruang virtual berbasis komunitas di mana pengguna bisa bermain, membuat gim, berinteraksi, hingga melakukan transaksi digital menggunakan mata uang virtual bernama Robux. Model ini membuat Roblox sangat kreatif dan menarik bagi anak-anak, namun sekaligus menyimpan risiko jika tidak diawasi dengan baik.

Dalam praktiknya, salah satu modus yang paling sering terjadi adalah penipuan digital. Pelaku biasanya menyamar sebagai sesama pemain dan menawarkan Robux gratis, item langka, atau akses event khusus. Anak-anak yang belum memahami risiko digital kerap diarahkan ke tautan eksternal atau diminta memasukkan ulang data akun, yang berujung pada pencurian akun dan data pribadi.

Selain penipuan, pendekatan personal melalui fitur chat juga menjadi perhatian serius. Beberapa pelaku memanfaatkan ruang obrolan untuk membangun kepercayaan dengan berpura-pura sebagai teman sebaya. Setelah komunikasi terjalin, anak diajak berpindah ke platform lain di luar Roblox, yang membuka peluang terjadinya grooming digital dan penyalahgunaan informasi pribadi.

Faktor lain yang memperbesar risiko adalah sifat Roblox yang berbasis konten buatan pengguna. Meski platform ini memiliki sistem moderasi, tetap ada kemungkinan anak-anak terpapar konten yang tidak sesuai usia, baik berupa bahasa, visual, maupun narasi permainan. Situasi ini diperparah jika anak bermain tanpa pendampingan orang tua.

Para pakar keamanan digital menilai, kerentanan anak-anak di Roblox bukan semata kesalahan platform, melainkan kombinasi dari kurangnya literasi digital, minimnya pengawasan, dan tingginya rasa ingin tahu anak. Di sisi lain, Roblox telah menyediakan berbagai fitur pengamanan seperti pengaturan privasi akun, filter komunikasi, dan sistem pelaporan pengguna. Namun, fitur tersebut tidak selalu aktif secara otomatis dan membutuhkan peran aktif orang tua.

Karena itu, orang tua disarankan untuk terlibat langsung dalam aktivitas digital anak. Mulai dari mengatur fitur keamanan, membatasi komunikasi daring, hingga mengedukasi anak agar tidak sembarangan membagikan data pribadi atau mengklik tautan mencurigakan. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan larangan total, yang justru dapat mendorong anak bermain tanpa pengawasan.

Kesimpulannya, Roblox pada dasarnya adalah platform kreatif yang dapat menjadi sarana bermain dan belajar. Namun, tanpa pendampingan dan pemahaman yang memadai, ruang digital ini berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan siber yang menyasar anak-anak. Literasi digital keluarga menjadi kunci agar anak tetap aman di dunia virtual yang terus berkembang.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan

Banner BlogPartner Backlink.co.id Seedbacklink