PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Wacana peluncuran mata uang BRICS kembali ramai diperbincangkan pada 2026. Isu ini menguat seiring upaya negara-negara anggota BRICS—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu dalam perdagangan global.

Meski kerap disebut akan “segera diluncurkan”, hingga kini mata uang BRICS masih berada pada tahap konsep dan pengembangan kebijakan, bukan mata uang fisik yang langsung digunakan masyarakat seperti rupiah atau dolar.

Lalu, apa sebenarnya mata uang BRICS itu? Bagaimana mekanismenya? Dan apa manfaatnya bagi Indonesia?

Mata uang BRICS adalah instrumen keuangan bersama yang dirancang untuk:

Konsep ini bukan pengganti mata uang nasional, melainkan lebih mirip:

  • unit pembayaran bersama, atau

  • alat settlement perdagangan lintas negara.

Artinya, mata uang BRICS tidak akan menggantikan yuan, rupee, atau real, apalagi digunakan untuk transaksi ritel.

Secara teknis, mata uang BRICS dirancang dengan beberapa karakteristik utama:

1. Digunakan untuk Transaksi Antarnegara

Fokus utamanya adalah perdagangan internasional, seperti ekspor-impor energi, pangan, dan bahan baku strategis.

2. Berbasis Nilai Komoditas atau Keranjang Mata Uang

Dalam wacana yang berkembang, nilainya bisa:

  • dikaitkan dengan komoditas (emas, energi, mineral), atau

  • berdasarkan gabungan mata uang negara anggota.

3. Sistem Digital dan Antarbank

Penggunaannya kemungkinan besar melalui:

  • bank sentral,

  • lembaga keuangan resmi,

  • dan sistem pembayaran lintas negara.

Masyarakat umum tidak akan memegang mata uang ini secara langsung.

Setidaknya ada tiga fungsi utama yang ingin dicapai:

  1. Memperlancar perdagangan internasional

  2. Mengurangi ketergantungan pada mata uang dominan global

  3. Memperkuat stabilitas transaksi antarnegara berkembang

Bagi negara anggota dan mitra BRICS, sistem ini dinilai dapat memberi opsi alternatif dalam sistem keuangan global.

Indonesia saat ini bukan anggota inti BRICS, namun kerap disebut sebagai mitra strategis karena:

  • kekuatan ekonomi regional,

  • peran di Asia Tenggara,

  • serta potensi perdagangan besar.

Jika Indonesia terlibat atau bekerja sama dalam sistem ini, ada beberapa potensi manfaat.

1. Efisiensi Perdagangan

Transaksi ekspor-impor dengan negara BRICS bisa:

  • lebih cepat,

  • biaya konversi lebih rendah,

  • risiko kurs lebih terkendali.

2. Diversifikasi Sistem Keuangan

Indonesia memiliki alternatif pembayaran internasional selain sistem yang sudah ada.

3. Stabilitas Transaksi Komoditas

Sebagai negara pengekspor komoditas, Indonesia berpotensi diuntungkan jika nilai transaksi lebih stabil.

Para ekonom menilai implementasi mata uang BRICS:

  • tidak bisa instan,

  • membutuhkan kesepakatan politik dan teknis jangka panjang,

  • serta sistem keuangan yang benar-benar matang.

Selain itu, rupiah tetap menjadi satu-satunya alat pembayaran sah di Indonesia, dan kebijakan moneter nasional tidak akan berubah karena wacana ini.

Mata uang BRICS pada 2026 masih berada pada tahap penguatan konsep dan kerja sama, bukan peluncuran massal. Namun, wacana ini menunjukkan arah baru sistem keuangan global yang semakin multipolar.

Bagi Indonesia, peluang terbuka dalam konteks kerja sama perdagangan dan keuangan, tanpa mengganggu kedaulatan rupiah maupun sistem moneter nasional. ( nv )

Penulis: SB

Editor: Chairul

Iklan

Banner BlogPartner Backlink.co.id Seedbacklink