PONTIANAK MEREKAM.COM, PONTIANAK – China mempercepat pengembangan sistem peringatan dini untuk mendeteksi asteroid yang berpotensi mengancam Bumi. Teknologi tersebut akan menggabungkan jaringan teleskop di permukaan Bumi dengan konstelasi satelit di luar angkasa agar mampu menemukan asteroid berbahaya lebih cepat dibandingkan metode pemantauan yang digunakan saat ini.

Pengembangan sistem ini diumumkan oleh China National Space Administration (CNSA) bertepatan dengan peringatan International Asteroid Day. Kepala Ilmuwan Asteroid Monitoring and Early Warning Research Center CNSA, Li Mingtao, mengatakan masih banyak asteroid dekat Bumi (near-Earth asteroids/NEA) yang belum berhasil teridentifikasi sehingga memerlukan sistem pemantauan yang lebih sensitif.

Menurut Li, hingga pertengahan 2026 para astronom telah menemukan lebih dari 40.000 asteroid dekat Bumi. Sekitar 95 persen asteroid berdiameter lebih dari satu kilometer telah dipetakan. Namun, untuk asteroid berukuran sekitar 140 meter, yang masih mampu menyebabkan kerusakan sangat besar, baru sekitar 45 persen yang berhasil dideteksi.

Sistem baru China menggunakan pendekatan space-ground monitoring, yaitu mengombinasikan observasi dari daratan dan luar angkasa. Di permukaan Bumi akan dibangun teleskop optik berdiameter besar di sejumlah lokasi strategis, sementara di orbit akan ditempatkan satelit yang dapat melakukan pemantauan tanpa terganggu atmosfer maupun pergantian siang dan malam.

Salah satu fokus utama proyek ini adalah mendeteksi asteroid yang datang dari arah Matahari. Objek semacam itu sangat sulit diamati dari Bumi karena tertutup silau cahaya Matahari, sehingga berpotensi lolos dari pengamatan hingga mendekati planet.

Peristiwa meteor Chelyabinsk di Rusia pada 2013 menjadi salah satu alasan penting pengembangan sistem tersebut. Saat itu, meteor baru terdeteksi setelah memasuki atmosfer Bumi dan meledak di udara, menyebabkan gelombang kejut yang melukai lebih dari seribu orang.

Selain membangun jaringan pemantauan, China juga tengah menyiapkan misi pembelokan asteroid menggunakan metode kinetic impactor, yakni menabrakkan wahana antariksa ke asteroid untuk mengubah lintasannya. Konsep ini serupa dengan misi DART (Double Asteroid Redirection Test) milik NASA yang berhasil mengubah orbit asteroid Dimorphos pada 2022. Demonstrasi teknologi tersebut ditargetkan menjadi bagian dari Rencana Lima Tahun ke-15 China.

Peneliti asteroid dari University of Helsinki, Anne Virkki, menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, sistem pemantauan baru akan memperkuat pertahanan planet apabila data yang dihasilkan dapat dibagikan secara terbuka kepada komunitas ilmiah internasional. Ia menambahkan masih terdapat sekitar 100.000 asteroid dekat Bumi yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar, sementara lintasan kurang dari separuhnya telah diketahui secara pasti.

Para ilmuwan menilai semakin dini asteroid berbahaya ditemukan, semakin besar peluang manusia mengambil langkah mitigasi untuk mencegah tabrakan dengan Bumi. Karena itu, pengembangan sistem pemantauan oleh berbagai negara menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya pertahanan planet dari ancaman benda langit di masa depan.

Penulis: Nv

Editor: Chairul

Iklan