PONTIANAK MEREKAM.COM, JAKARTA – Garda Revolusi Iran atau IRGC mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz agar tetap berlayar di koridor resmi yang ditetapkan Teheran. Iran menegaskan kapal yang bergerak di luar jalur tersebut berisiko ditindak karena dianggap melanggar aturan pelayaran dan membahayakan keselamatan di salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Peringatan itu muncul setelah beredar informasi soal adanya jalur pelayaran baru di kawasan Hormuz yang diumumkan tanpa koordinasi dengan Iran. Menurut laporan yang dikutip detikFinance, IRGC menyatakan semua rute alternatif yang dibuat tanpa persetujuan Teheran tidak dapat diterima. Mereka juga mewajibkan kapal untuk berkoordinasi melalui saluran komunikasi yang telah ditentukan Iran sebelum melintas di kawasan tersebut.
Dalam pernyataannya, Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa berlayar di luar koridor resmi adalah tindakan berbahaya dan dilarang. Iran meminta seluruh operator kapal benar-benar menghindari pergerakan di luar rute yang sudah ditetapkan. Sikap keras ini menunjukkan Teheran masih ingin memegang kendali penuh atas arus pelayaran di Selat Hormuz, meski kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah diumumkan.
Pemicunya adalah usulan koridor transit alternatif yang disampaikan kelompok informasi angkatan laut pada Sabtu (20/6/2026). Dalam pemberitahuan itu, pemilik kapal disarankan menggunakan rute selatan di sepanjang perairan teritorial Oman dengan transponder tetap menyala. Jalur tersebut disebut telah dipastikan bebas ranjau dan direkomendasikan sebagai lintasan yang lebih aman. Namun Iran tampaknya tidak mengakui skema itu jika tidak dibahas bersama Teheran.
Data lalu lintas kapal menunjukkan pelayaran di Selat Hormuz memang mulai pulih. Hingga akhir pekan lalu, jumlah kapal yang melintas tercatat meningkat tiga kali lipat menjadi 93 armada. Meski begitu, angka itu masih berada di bawah kondisi sebelum perang, ketika lebih dari 100 kapal per hari melintasi selat tersebut. MarineTraffic juga mencatat 31 penyeberangan terverifikasi pada Selasa, menandakan operator kapal masih memilih bergerak hati-hati dan belum kembali ke pola normal sepenuhnya.
Situasi ini membuat ketidakpastian di Selat Hormuz belum benar-benar berakhir. Di satu sisi, ada tanda pemulihan arus pelayaran. Di sisi lain, peringatan Iran menegaskan bahwa kontrol atas jalur laut itu tetap menjadi isu sensitif. Bagi pelaku pelayaran dan industri energi global, ancaman terhadap kapal yang keluar dari rute resmi berarti risiko keamanan dan biaya logistik masih tinggi, bahkan setelah konflik mereda.
Ketegangan juga bertambah setelah Departemen Keuangan AS pada Mei lalu menjatuhkan sanksi kepada Otoritas Selat Teluk Persia Iran. Washington menuding ada indikasi pemerasan terhadap aktivitas perdagangan maritim global. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menegaskan pemerintahnya tidak akan mentoleransi sistem pengenaan tol apa pun di Selat Hormuz dan siap menargetkan pihak-pihak yang terlibat.
Sejumlah analis menilai kendali Iran atas Selat Hormuz bisa menimbulkan dampak jangka panjang bagi arus minyak dunia. Jika Teheran tetap mempertahankan pengaruh operasional di jalur tersebut, pemulihan lalu lintas kapal dikhawatirkan tidak akan kembali normal seperti sebelum perang. Artinya, sekalipun konflik bersenjata mereda, pasar energi global masih harus menghadapi ancaman baru berupa ketidakpastian pelayaran di chokepoint terpenting kawasan Timur Tengah itu.
Penulis: Nv
Editor: Chairul

