Curah Hujan di Kalbar Diprediksi Menurun, BMKG Ingatkan Potensi Karhutla Mulai Meningkat
PONTIANAK MEREKAM.COM, PONTIANAK – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan di wilayah Kalimantan Barat akan mulai mengalami penurunan memasuki Juni 2026. Kondisi tersebut menjadi sinyal awal peralihan menuju musim yang lebih kering di sejumlah daerah.
Meski hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah, intensitas dan frekuensinya diperkirakan tidak setinggi beberapa bulan sebelumnya. Situasi ini membuat masyarakat diminta mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan analisis BMKG, sebagian besar wilayah Kalimantan Barat masih berpeluang mengalami hujan dengan kategori ringan hingga sedang. Namun tren umum menunjukkan adanya penurunan curah hujan secara bertahap dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer yang mulai mengarah pada berkurangnya suplai uap air di sejumlah wilayah. Akibatnya, peluang terbentuknya awan hujan menjadi lebih rendah dibanding saat puncak musim penghujan.
BMKG menyebut perubahan pola cuaca ini merupakan hal yang normal dalam siklus iklim tahunan. Meski demikian, dampaknya tetap perlu diantisipasi karena berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan, terutama pada wilayah yang memiliki area gambut cukup luas.
Kalimantan Barat sendiri selama ini menjadi salah satu daerah yang cukup rawan mengalami karhutla saat musim kemarau. Kondisi lahan gambut yang mudah mengering membuat potensi kebakaran dapat meningkat ketika curah hujan mulai berkurang.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka area perkebunan maupun pertanian. Aktivitas tersebut dinilai dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama ketika cuaca panas dan angin mulai meningkat.
Selain itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait juga terus melakukan langkah antisipasi melalui pemantauan titik panas atau hotspot yang terdeteksi melalui sistem pemantauan satelit.
Langkah pencegahan dianggap lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi. Sebab, kebakaran lahan sering menimbulkan dampak luas mulai dari kerusakan lingkungan hingga gangguan kesehatan akibat kabut asap.
BMKG juga meminta masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi cuaca resmi yang disampaikan melalui kanal resmi pemerintah maupun lembaga meteorologi.
Informasi prakiraan cuaca dinilai penting untuk membantu masyarakat menyesuaikan aktivitas sehari-hari, terutama bagi sektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga transportasi.
Di sisi lain, meski tren curah hujan menurun, masyarakat tetap diminta tidak mengabaikan potensi hujan lokal yang masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Beberapa wilayah masih berpeluang mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat akibat faktor cuaca lokal.
Karena itu, kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem tetap diperlukan, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan genangan maupun daerah yang sering terdampak angin kencang.
Dengan mulai berkurangnya curah hujan di Kalimantan Barat, seluruh pihak diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan guna mencegah munculnya bencana lingkungan, khususnya kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi saat musim kering.
Penulis: Nv
Editor: Chairul
