Perang Iran-AS Picu Ancaman Krisis Pangan Global, Harga Bisa Melonjak Tajam
PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kini tak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mulai mengancam ketahanan pangan global. Para pakar memperingatkan, jika eskalasi terus berlanjut, dunia bisa menghadapi krisis pangan yang serius.
Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah potensi terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz. Jalur strategis ini merupakan salah satu titik vital distribusi energi dan komoditas dunia.
Pakar ekonomi pertanian dari Universitas Bonn, Matin Qaim, menilai bahwa penutupan atau gangguan di jalur tersebut dapat berdampak luas terhadap rantai pasok global. Ia menyebut kondisi ini berpotensi mendorong harga pangan melonjak ke level tertinggi, bahkan mendekati krisis energi era 1970-an.
Tidak hanya itu, konflik juga memicu kenaikan harga energi yang berdampak langsung pada biaya produksi pertanian. Kenaikan harga minyak membuat biaya transportasi dan distribusi pangan meningkat secara signifikan.
Dalam kondisi tersebut, petani di berbagai negara berisiko mengurangi penggunaan pupuk atau bahkan menekan produksi. Jika hal ini terjadi secara luas, maka produksi pangan global bisa ikut menurun.
Sejumlah analis juga menyoroti peran penting pasokan pupuk yang sebagian besar melewati kawasan Timur Tengah. Gangguan distribusi pupuk akan berdampak besar pada hasil panen, terutama di negara-negara penghasil utama.
Bahkan, laporan terbaru menunjukkan bahwa harga pangan dunia mulai mengalami kenaikan sejak konflik memanas. Organisasi Pangan Dunia (FAO) mencatat kenaikan indeks harga pangan global akibat meningkatnya harga energi dan kekhawatiran terhadap pasokan.
Jika konflik berlangsung lebih lama, dampaknya diperkirakan akan semakin terasa. Kenaikan biaya input pertanian seperti pupuk dan energi dapat membuat petani mengurangi luas tanam atau beralih ke komoditas yang lebih murah.
Situasi ini berpotensi menciptakan efek domino terhadap pasokan pangan global. Produksi yang menurun akan mendorong harga naik, sementara daya beli masyarakat belum tentu mampu mengimbanginya.
Selain itu, ketidakpastian global juga mendorong sejumlah negara produsen untuk menahan stok pangan mereka. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga kebutuhan domestik, namun di sisi lain dapat memperburuk kelangkaan di pasar internasional.
Para pakar menilai, krisis pangan global bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman nyata jika konflik tidak segera mereda. Terlebih, sistem pangan dunia saat ini sangat bergantung pada rantai pasok global yang saling terhubung.
Dengan kondisi tersebut, stabilitas geopolitik menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan dunia. Tanpa solusi cepat, dampak konflik berpotensi meluas dan dirasakan oleh hampir seluruh negara, termasuk negara berkembang yang paling rentan.
Penulis: Nv
Editor: Chairul
