PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Kasus meninggalnya seorang dokter muda yang diduga akibat campak menjadi peringatan serius bahwa penyakit ini tidak bisa dianggap sepele. Campak ternyata bukan hanya menyebabkan ruam dan demam, tetapi juga dapat memicu komplikasi berat berupa pneumonia yang berpotensi melumpuhkan fungsi paru-paru hingga berujung fatal.

Dokter spesialis paru, Erlina Burhan menjelaskan bahwa pneumonia merupakan komplikasi paling sering dan berbahaya pada penderita campak. Kondisi ini terutama berisiko pada anak-anak dengan daya tahan tubuh rendah atau yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, meski orang dewasa juga tidak luput dari ancaman tersebut.

Campak sendiri merupakan infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan dan menyebar melalui droplet. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus tidak hanya berhenti di tenggorokan, tetapi menyebar melalui aliran darah ke berbagai organ, termasuk paru-paru. Di organ vital ini, virus dapat memicu peradangan hebat hingga menyebabkan penumpukan cairan yang mengganggu proses pertukaran oksigen.

Lebih berbahaya lagi, virus campak memiliki kemampuan melemahkan sistem kekebalan tubuh sementara, kondisi yang dikenal sebagai immune amnesia. Dalam situasi ini, tubuh menjadi sangat rentan terhadap infeksi lain, terutama bakteri seperti Streptococcus pneumoniae yang dapat dengan mudah menyerang paru-paru dan memperparah kondisi pasien.

Akibatnya, paru-paru tidak mampu bekerja secara optimal dalam menyuplai oksigen ke seluruh tubuh. Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami gagal napas yang berpotensi menyebabkan kematian. Bahkan, pneumonia akibat campak disebut sebagai penyebab utama kematian pada pasien campak, khususnya di negara berkembang.

Data medis juga menunjukkan bahwa risiko komplikasi ini tidak hanya terjadi pada anak-anak. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal medis di Vietnam mencatat sekitar 27,2 persen pasien dewasa yang terinfeksi campak mengalami pneumonia. Hal ini menegaskan bahwa penyakit ini tidak mengenal batas usia dan dapat menyerang siapa saja.

Selain faktor usia, kondisi seperti kekurangan gizi, defisiensi vitamin A, serta tidak adanya perlindungan imunisasi turut meningkatkan risiko komplikasi berat. Sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat virus dan bakteri lebih mudah berkembang, sehingga memperburuk kondisi pasien secara cepat.

Para ahli menegaskan bahwa pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menghindari dampak fatal dari campak. Vaksinasi dinilai sebagai perlindungan utama karena mampu melatih sistem imun untuk mengenali dan melawan virus sebelum menyebabkan kerusakan serius pada tubuh. Dengan imunisasi yang lengkap, risiko komplikasi seperti pneumonia dapat ditekan secara signifikan.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa campak bukan penyakit ringan. Tanpa penanganan dan pencegahan yang tepat, infeksi ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang mengancam nyawa.

Penulis: fz

Editor: Chairul

Iklan