Kisah Satuki, Guru Ngaji 80 Tahun di Pontianak yang Tetap Mengajar 60 Murid
PONTIANAKMEREKAM.COM, PONTIANAK – Rasa haru tak bisa disembunyikan dari wajah Satuki, seorang guru ngaji tradisional di Kota Pontianak. Di usia yang telah menginjak 80 tahun, ia masih setia mengajarkan Alquran kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.
Satuki menjadi salah satu dari ribuan guru ngaji yang menerima bantuan biaya operasional dari Pemerintah Kota Pontianak. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Wali Kota Pontianak dalam kegiatan yang digelar di Aula Rumah Dinas Wali Kota, Kamis (12/3).
Usai menerima bantuan tersebut, Satuki mengaku sangat bersyukur atas perhatian pemerintah kepada para guru ngaji tradisional yang selama ini mengabdikan diri mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
“Pemerintah Kota Pontianak punya perhatian besar kepada guru ngaji dan juga para petugas fardhu kifayah. Kami sangat bersyukur,” ujarnya.
Mengajar Ngaji Sejak 1980
Satuki mengungkapkan dirinya sudah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai guru ngaji di lingkungan tempat tinggalnya di Pontianak Timur.
Sejak sekitar tahun 1980, ia mulai mengajarkan anak-anak membaca Alquran dari rumahnya sendiri. Seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang hingga akhirnya dibangun sebuah surau kecil sebagai tempat belajar mengaji.
Kini, sekitar 60 anak rutin belajar membaca Alquran di tempat tersebut.
“Awalnya mengajar di rumah, kemudian perlahan dibuat surau kecil. Sampai sekarang saya masih mengajar anak-anak di sana,” ungkapnya.
Menurut Satuki, keberadaan guru ngaji tradisional sangat penting dalam membentuk generasi yang memiliki dasar ilmu agama, terutama kemampuan membaca Alquran.
Ia berharap perhatian pemerintah terhadap para guru ngaji dapat terus berlanjut sehingga kegiatan pembelajaran Alquran di tengah masyarakat tetap berjalan.
Pemkot Pontianak Apresiasi Peran Guru Ngaji
Pemerintah Kota Pontianak memberikan bantuan operasional kepada 1.006 guru ngaji tradisional di kota tersebut.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan bahwa peran guru ngaji sangat besar dalam membentuk karakter generasi muda.
Menurutnya, para guru ngaji tidak hanya mengajarkan cara membaca Alquran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahun ini, setiap guru ngaji tradisional menerima bantuan operasional sebesar Rp2,8 juta.
“Semoga bantuan ini bisa menjadi penyemangat bagi para guru ngaji dalam mengajarkan anak-anak membaca Alquran,” ujar Edi.
Bentuk Dukungan Pendidikan Keagamaan
Edi menilai keberadaan guru ngaji tradisional memiliki peran penting dalam membentuk akhlak generasi muda, terutama di tengah berbagai tantangan di era digital saat ini.
Ia berharap para guru ngaji tetap semangat dalam menjalankan perannya di masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga berharap anak-anak di Kota Pontianak dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki akhlak baik dan pemahaman agama yang kuat.
“Harapannya anak-anak kita bisa memiliki akhlakul karimah atau budi pekerti yang baik,” tutupnya.
Penulis: fz
Editor: Chairul
